Connect with us

Institusi Kepolisian Memiliki Pahlawan dan Tokoh Panutan Yang Berperan Penting Bagi Kewibawaan Instusi Polri

Musirawas

Institusi Kepolisian Memiliki Pahlawan dan Tokoh Panutan Yang Berperan Penting Bagi Kewibawaan Instusi Polri

MUSI RAWAS LK-Polres Musi Rawas, melalui Bag SDM Polres Musi Rawas melaksanakan kegiatan Sosialisasi Sejarah Kepahlawanan dan Polisi Istimewa Komjen Pol (Purn) M. Jasin bertempat diruang Cakra Gedung Satuan Intelkam Polres Musi Rawas Jalan Lintas Sumatera Muara Beliti, Senin, (10/06/2024)

Kegiatan Sosialisasi sejarah Kepahlawanan dan Polisi Istimewa Komjen Pol (Purn) M. Jasin dipimpin Kapolres Musi Rawas dalam hal ini diwakili oleh Plh. Kabag SDM Polres Musi Rawas Iptu Syamsir bersama Paursubbag Wapers serta turut diikuti oleh para Paurmin dari setiap Bagian, para Kaurmintu dari setiap Satuan para Kasium Polsek jajaran dan para Bamin pada setiap Seksi di Polres Musi Rawas.

Dalam Kegiatan ini dilaksanakan juga sosialisasi penayangan video singkat yang mengisahkan perjalanan hidup dan perjuangan M. Jasin, seorang pejuang yang lahir di Bau-Bau, Sulawesi Tenggara pada 9 Juni 1920.

M. Jasin adalah turunan keenam dari Raja Bone ke-22, Sultan Abdul Razak Jalaludin, yang merupakan keturunan ulama dan tokoh Islam yang dihormati.
Ayah M. Jasin yang merupakan seorang saudagar dari Bone, yang merantau ke Buton dan menjadi pedagang kelontong di Jawa Timur setelah ibunya meninggal, M. Jasin kemudian disekolahkan di Makassar oleh pamannya dan menjadi seorang polisi, meskipun cita-citanya sebenarnya ingin menjadi penerbang.

M. Jasin menunjukkan kecemerlangannya dalam Kepolisian, baik pada masa pendudukan Belanda, Jepang, maupun setelah kemerdekaan. Pada tanggal 5 November 2015, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan menjadi polisi pertama dalam sejarah Republik Indonesia yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.

M. Jasin juga memiliki peran penting dalam Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menjadi Komandan Tokoh BPUPKI di Surabaya, yang merupakan satu kesatuan politik yang dibentuk pada masa pendudukan Jepang.

Selain itu ia terlibat dalam pertempuran di Surabaya setelah proklamasi kemerdekaan, yang mempelopori kesadaran akan kemampuan diri sendiri dan identitas bangsa serta membangkitkan militansi pemuda di Surabaya.

M. Jasin juga diakui sebagai pendiri Brimob, yang merupakan Kesatuan Polisi Khusus, dan turut berperan dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, termasuk dalam menghadapi agresi militer Belanda, membantu penanggulangan gerakan APRA dan gerakan separatis lainnya seperti Gerakan Darul Islam.

“Sebagai anggota Polri, kita dapat mengambil pelajaran dan keteladanan akan nilai-nilai kepahlawanan, pengorbanan serta dedikasi dari Komjen Pol (Purn) M. Jasin dalam pelaksanaan tugas dijaman era teknologi menuju Indonesia Emas yang penuh tantangan untuk menempatkan diri sebagai insan Polri pelindung, pengayom, pelayan masyarakat dan penegakkan hukum dengan menjaga gaya hidup, sikap-prilaku dan menanamkan dedikasi serta loyalitas tinggi terhadap institusi Polri agar semakin dipercaya oleh masyarakat”, kata Kapolres Musi Rawas, AKBP Andi Supriyadi, S.H., S.I.K., M.H dalam penjelasannya.

Bahwa Komisaris Jenderal Polisi (Purn) DR. H. Moehammad Jasin adalah tokoh pejuang yang berasal dari kepolisian. Salah satu aksi yang dilakukan M. Jasin adalah memproklamasikan Polisi Istimewa atau Tokubetsi Keisatsu Tai menjadi Polisi Republik Indonesia. Sebelumnya Polisi Istimewa adalah Badan Kepolisian yang dibentuk pemerintahan militer Jepang. Jasin lah yang menjadi komandannya di Surabaya. Oleh sebab itu, Jasin pun dikenal sebagai Bapak Brimob Polri.

Terakhir ia bersekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat sekolah menengah atas, di Makassar. Seusai menyelesaikan pendidikannya, tahun 1941, M. Jasin bergabung dalam pendidikan kepolisian di Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat. Sempat merasa tidak suka di Kepolisian, M. Jasin kemudian mencoba mengikuti pelatihan penerbangan militer di Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM) di Bandung. Namun, keinginannya tersebut tidak direstui oleh kedua orangtuanya. Akhirnya, M. Jasin pun kembali menjalani Pendidikan di Kepolisian. Selesai mengikuti pendidikan, M. Jasin pun mendapat pangkat Hoofd Agent (bintara). Pada awal kependudukan Jepang di Indonesia, M. Jasin kembali ke Sukabumi. Di sana ia mengikuti Pendidikan Polisi milik Jepang yang lebih menekankan pada pendidikan militer. Sesudah itu, M. Jasin ditempatkan di Gresik. Ia bertugas sebagai instruktur di Sekolah Polisi di Surabaya, tempat mendidik para calon anggota Polisi Istimewa.

Dalam legiatan sosialisasi, juga disampaikan oleh Plh. Kabag SDM Polres Musi Rawas, Iptu Syamsir bahwa M. Jasin ikut terlibat dalam perjuangan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Tindakan cukup monumental yang pernah dilakukan M. Jasin adalah saat ia memproklamasikan perubahan Polisi Istimewa menjadi Polisi Indonesia. Proklamasi tersebut ia kumandangkan pada tanggal 21 Agustus 1945. Melalui proklamasi ini, M. Jasin berarti telah melepaskan keterikatan Polisi Istimewa dengan Jepang. Hal ini juga telah mengubah status polisi dari polisi kolonial menjadi polisi negara merdeka. Proklamasi tersebut sekaligus menjadi bentuk antisipasi terhadap adanya kemungkinan Jepang melucuti senjata Polisi Istimewa. Bulan-bulan pertama pasca proklamasi kemerdekaan, Surabaya menjadi kota yang sangat “panas”. Pasalnya telah banyak terjadi perebutan senjata dari pasukan Jepang dan pertempuran melawan Sekutu. Beberapa hari setelah pertempuran Surabaya meledak, melalui sebuah radio, M. Jasin mengumumkan bahwa Pasukan Polisi Istimewa yang ia pimpin telah dimiliterisasi. Oleh sebab itu, mereka harus diikutsertakan dalam pertempuran.

Selama pertempuran Surabaya berlangsung, M. Jasin memimpin pasukannya dalam pertempuran di beberapa tempat. Menjelang akhir November 1945, M. Jasin meninggalkan Surabaya dan memindahkan markasnya ke Sidoarjo. Selain terlibat dalam pertempuran Surabaya, peran M. Jasin juga tidak terlepas dari keterkaitan dengan Mobiele Brigade (Mobbrig) atau yang sekarang disebut Brigade Mobil (Brimob). Moehammad Jasin diangkat menjadi Komandan Mobiele Brigade Besar (MBB) Jawa Timur. Ia juga menjadi Koordinator Mobrig di semua keresidenan di Jawa Timur. Selain berkiprah di bidang kepolisian, M. Jasin juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), dan pernah juga menjabat anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS).

“Komjen Pol. (Purn) DR. H. M. Jasin wafat pada hari Kamis tanggal 3 Mei 2012. Beliau wafat di R.S Polri Kramat Jati. Beliau kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Untuk mengenang jasa-jasanya, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor : 116/TK/Tahun 2015 tanggal 5 November 2015, beliau dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional”, tutup Plh. Kabag SDM Polres Musi Rawas.(Rls/Roem)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Musirawas

Trending

Terkini

LinggauKlik

To Top