Connect with us

Akankah Musi Rawas Terbebas Dari DBD

Sumsel

Akankah Musi Rawas Terbebas Dari DBD

Linggauklik.com,Penyakit tular vektor merupakan penyakit zoonosis, hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan di seluruh penjuru dunia. Lebih dari 60% kasus penyakit menular di dunia merupakan penyakit zoonosis.

Nyamuk menjadi vektor utama penyebaran penyakit zoonosis ini. Menurut Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P), Kemenkes RI bahwa penyakit tular vektor di Indonesia telah mengalami penurunan yang cukup signifikan, namun kasus penyakit tular vektor masih menjadi masalah kesehatan penting di Indonesia. Penyakit demam berdarah dengue (DBD) salah satunya.

Demam Berdarah Dengue (DBD) sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia. Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk, disamping itu penyakit ini juga dapat menimbulkan kejadian luar biasa (KLB).

Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh virus dengue yang masuk dalam genus Flavivirus dan ditularkan oleh nyamuk penular utama yaitu Aedes aegypti, spesies lainnya yaitu Aedes albopictus juga turut berperan dalam penularan virus dengue.

Di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sebagai salah satu wilayah endemis DBD, sejak tahun 2010 hingga 2017 memperlihatkan pola peningkatan angka penyebaran penyakit DBD yang meningkat. Menurut data terakhir yang diperoleh dari Ditjen P¬2P mengenai kasus DBD per Provinsi di Indonesia, Sumatra Selatan termasuk dalam 16 besar penyebaran kasus DBD per Provinsi.

Hal ini dapat disebabkan karena adanya perubahan iklim dan rendahnya kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Siklus dan Penyebaran Penyakit
Menurut data yang diperoleh dari Tri Wurisastuti tahun 2017 Dalam kasus penyait DBD Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2014 meningkat dibandingkan tahun 2013.

Pada tahun 2014 jumlah kasus mencapai 1.506 kasus (IR atau incidence rate sebesar 19/100.000 penduduk) dengan jumlah kematian sebanyak 4 kematian. Pada tahun 2013 jumlah penderita DBD sebanyak 1.450 kasus (IR 19/100.000 penduduk) dengan kematian sebanyak dua orang.

3 Penemuan kasus DBD terbanyak di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2014 yaitu 622 kasus di Kota Palembang, 226 kasus di Prabumulih dan 136 kasus di Banyuasin. Sistem perkembangan kota yang relatif cepat pada beberapa tahun terakhir serta pemukiman penduduk yang padat diduga sebagai penyebab Kota Palembang selama bertahun-tahun menjadi peringkat teratas dalam jumlah kasus DBD.

Kemudian pada tahun 2019 lalu data mengenai penyebaran penyakit DBD mengatakan bahwa tercatat 2.799 kasus dengan jumlah korban meninggal 16 orang, untuk kasus terbanyak terdapat di Palembang yakni mencapai 667 kasus, lalu Banyuasin sebanyak 235 kasus, dan Muara Enim 229 kasus.

Pada tahun 2020 hingga bulan Februari penyebaran kasus DBD di Sumatra Selatan sudah sampai 819 kasus, kasus terbanyak terdapat di Musi Banyuasin 128 kasus, Palembang 122 kasus, dan Muaraenim 111 kasus dan diperkirakan akan meningkat lagi.

Menurut kepala seksi Pencegahan dan Pengendaian Penyakit (P2P) Dinkes Provinsi Sumatera Selatan mengatakan bahwa peningkatan penyebaran penyakit DBD ini disebabkan karena musim hujan, dan diperkirakan pada bulan April akan mengalami penurunan kasus
Dalam daur hidup nyamuk dikenal 2 alam atau lingkungan kehidupan yaitu air dan di luar air (darat atau udara).

Stadium pra dewasa (telur, larva dan pupa) hidup di lingkungan air sedangkan stadium dewasa (nyamuk) hidup di luar air. Tempat perindukan nyamuk biasanya berupa genangan air yang tertampung disuatu tempat atau bejana. Secara teoritis nyamuk Aedes tidak suka bertelur digenangan air yang langsung bersentuhan dengan tanah atau air kotor.

Genangan yang disukai sebagai tempat perindukan nyamuk ini berupa genangan air yang tertampung di suatu wadah yang biasanya disebut kontainer atau tempat penampungan air bersih. Namun demikian, beberapa penelitian menunjukkan adanya perubahan perilaku berkembang biak nyamuk tersebut.

Nyamuk Aedes aegypti mampu hidup dan berkembang biak pada campuran kotoran ayam, kaporit, air sabun, air comberan dan air sumur gali. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan perilaku nyamuk Aedes aegypti dalam beradaptasi dengan lingkungan.Bila Aedes aegypti benar-benar dapat berkembang biak tanpa air bersih maka potensi bahaya penularan DBD dan penyakit lain yang ditularkan oleh Aedes aegypti semakin besar dimasa yang akan datang.

Insiden dan Faktor Risiko

Pada Provinsi Sumatra Selatan total hingga per Februari 2020 terdapat 819 kasus DBD yang terjadi di kabupaten/kota di Sumsel. Dalam penyakit DBD ini juga sudah terdapat  3 kasus orang yang meninggal akibat penyakit DBD. Penyebaran kasus tersebut meliputi Ogan Komering Ulu 3 kasus kasus, Ogan Komering Ilir 4 kasus, Muaraenim 111 kasus dan 1 meninggal, Lahat 67 kasus, Musi Rawas 33 kasus, Musi Banyuasin kasus 128 kasus, Banyuasin 91 kasus dan 1 meninggal, Ogan Komering Ulu Selatan 5 kasus, Ogan Komering Ulu Timur 65 kasus, Ogan Ilir 23 kasus, Empat Lawang 5 kasus, Palembang 122 kasus, Prabumulih 54 kasus, Pagar Alam 19 kasus, Lubuk Linggau 67 kasus, Pali 11 kasus, Musi Rawas Utara 11 kasus dan 1 meninggal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus DBD sangat kompleks, yaitu pertumbuhan penduduk yang tinggi, urbanisasi yang tidak terencana dan tidak terkendali, kurangnya perhatian masyarakat mengenai pembersihan tempat-tempat genangan air yang menjadi sarang bertelurnya nyamuk (breeding place),  tidak adanya kontrol vektor nyamuk yang efektif didaerah endemis, masyarakat kurang dalam mengosumsi makanan yang sehat dan bergizi sehingga membuat sistem imun menjadi lemah.

Selain itu juga dapat diakibatkan dari munculnya resistensi nyamuk Aedes terhadap insektisida, hal ini dapat terjadi karena kegiatan fogging dan larvasidasi yang hampir setiap tahun dilakukan.

Strategi Pengendalian

Untuk mengurangi angka penyebaran kasus penyakit tular vector yang ada di Provinsi Sumatra Selatan dapat dilakuakn dari berbagai pihak dan dari berbagai sisi. Bagi Instansi Terkait Dinas Kesehatan dan Puskesmas yang ada di setiap kabupaten atau kota di Provinsi Sumatra Selatan untuk tetap meningkatkan penyuluhan secara rutin kepada masyarakat mengenai penyakit DBD untuk mencapai masyarakat dengan perilaku yang baik dalam tindakan memelihara kesehatan lingkungan rumah.

Dari Pihak pemerintahan sebaiknya pemerintah memberikan prioritas pelayanan/program pada desa yang penduduknya padat, prevalensi kasus DBD yang tinggi dan perumahan dengan kebersihan lingkungan yang kurang dimana prevalensi kasus demam berdarah akan meningkat, selain itu pemerintah juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan penyuluhan mengenai bahayanya penyakit DBD dan cara menanggulanginya.

Perlu pemberdayaan pelajar dan seluruh penghuni sekolah untuk mengurangi risiko penularan DBD dengan melakukan kegiatan pembersihan secara rutin minimal 1 kali seminggu.

Bagi masyarakat Masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi dalam menurunkan angka kejadian demam berdarah di wilayahnya dengan melakukan kegiatan kerja bakti secara rutin, berupaya melakukan perlindungan diri menggunakan obat anti nyamuk pada waktu yang tepat, menggunakan kawat kassa pada setiap ventilasi rumah dan memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

Penutup

Penyakit tular vektor DBD yang ada di Provinsi Sumatera Selatan ini memang masih sangat besar angka kejadian kasusnya sehingga perlu adanya perhatian kusus baik dari pihak keseharan, pemerintah, dan masyarakat sendiri untuk berupaya menurunkan atau mengurangi kejadian kasus DBD dari tahun ke tahun.

Sejauh ini memang penyebaran penyakit tular vektor di Provinsi Sumatra Selatan dari tahun ke tahun sudah mengalami penurunan. Oleh sebab itu untuk semakin mengurangi angka kasus penyakit DBD tesebut masih diperlukan pengendalian-pengendalian dan pencegahan yang lebih baik lagi sehingga kedepannya dapat diharapkan bahwa Provinsi Sumatera Selatan terbebas dari penyakit tular vector DBD.

Referensi :
Novrita, B., Mutahar, R., & Purnamasari, I. (2017). Analisis Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue di Wilayah Kerja Puskesmas Celikah Kabupaten Ogan Komering Ilir. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat https://doi.org/10.26553/jikm.2017.8.1.19-27.
Wurisastuti, T. (2013). Perilaku Bertelur Nyamuk Aedes aegypti pada Media Air Tercemar. Pusat Loka Penelitian dan Pengembangan Penyakit Bersumber Binatang, Baturaja.
Wurisastuti, T., Sitorus, H., & Oktavia, S. (2017). Hubungan Perilaku Masyarakat Dengan Kasus Demam Berdarah di Kota Palembang Sumatera Selatan. SPIRAKEL, Vol. 9 No. 1.

Penulis : Theoflius Stm
NIM : 31170086
Mahasiswa Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta (UKDW)

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Sumsel

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top