Connect with us

Dipaksa Senior Jilat Pembalut, Orang Tua Datangi Pondok Pesantren Ar-Risalah

Foto sejumlah orang tua mendatangi Pondok Pesantren Ar Risalah untuk mempertanyakan perbuatan siswa, dan sebelah kanan empat siswa yang diduga melakukan pemaksaan untuk menjilat pembalut

Pendidikan

Dipaksa Senior Jilat Pembalut, Orang Tua Datangi Pondok Pesantren Ar-Risalah

LUBUKLINGGAU,LK-Tak terima anaknya diperlakukan tidak senonoh oleh oknum pengurus Osis di Pondok Pesantren Modern Ar-Risalah Kota Lubuklinggau, sejumlah wali murid datangi Pondok Pesantren, Minggu (19/1/2020).

Langkah itu dilakukan agar aksi tidak senonoh dalam dunia pendidikan tidak terulang lagi.

Kedatangan para orang tua itu diterima oleh Pimpinan Pondok Pesantren Modern Ar-Risalah Kota Lubuklinggau Ustad Budi Satriadi didampingi Pembina Asrama Neli.

Salah satu orang tua santri yakni Subadri asal Kabupaten Muratara yang merupakan orang tua dari SA yang duduk di bangku Kelas X SMA Pondok Pesantren modern Ar-Risalah.

Ia mendatangi pihak sekolah untuk meminta tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan oleh beberapa pengurus Osis, dan minta mereka dihukum dengan tegas agar hal yang serupa tidak terulang lagi.

“Ceritanya kemarin anak saya bersama teman-tamannya dipaksa oleh pengurus osis Ar- Risalah untuk menjilat bekas kotoran haid atau pembalut wanita, namun anak saya tidak mau tetapi dipaksa,”kata Subadri kepada wartawan, Minggu.

Dikatakan Subadri Ini adalah preseden buruk dunia pendidikan pesantren, tujuan ia menitip anaknya di Pesantren untuk sekolah disana, untuk mencari Ilmu Agama,  dan bukan untuk hal-hal yang demikian.

Ia menyesalkan perbuatan seorang santri seperti itu, apalagi ia sudah memenuhi hak dan kewajiban di Pesantren, bahkan apa yang menjadi aturan Sekolah dilaksanakan.

“Saya tidak terima kalau diperlakukan seperti ini dan kalau guru tidak membikin sanksi tegas, maka saya akan tuntut ,”tegasnya.

Selain Subandri, ada juga Basri yang medatangan pondok pesantren, ia datang marah-marah memberi tahu kenapa anaknya di sekolah disuruh oleh pengurus Osis memeras pembalut bekas haid wanita.

“Masak bekas najis dipaksa disuruh jilat untung ada anggota Osis lainnya yang melarang,”kata Basri.

Terus terang kata ia, kalau perbuatannya seperti ini ia tidak senang dan meminta pengurus Pesantren untuk mengeluarkan empat pengurus Osis yang melakukan perbuatan tidak senonoh itu.

“Coba kalian jadi orang tua, apakah kalian terima kalau anaknya diperlakukan seperti itu,”kesalnya.

Sedangkan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Ar Risalah Ustad Budi Satriadi menyikapi kemarahan orang tua, ia mengatakan permohonan maaf nya.

“Sebelumnya kami atas nama pengurus pesantren mohon maaf dan terus terang ini diluar kehendak dan keinginan, ini bukan la corak yang sebenarnya dunia Pendidikan,”kata Ustad Budi.

Ia menjelaskan Memang di Pondok Pesantren Ar-Risalah ini anak kelas XI disuruh menjadi pengurus Osis untuk mengawal, membina dan mengarahkan.

Namun sambungnya, mereka tidak ada hak untuk memberikan sanksi dan yang berhak memberikan sanksi adalah guru-guru di Pesantren. Dan ia tidak membernakan perbuatannya.

Memang adik-adik dijarkan untuk tidak membuang bekas haid sebarangan dan diajarkan untuk bersih. Dan apabila terjadi oper seperti ini tentu ini disalahkan kan.

“Ini diluar kehendak kami selaku pengurus pesantren kami mohon maaf atas sikap yang dilaporkan anak-anak kami ini,”ungkapnya.

Ia selaku Pimpinan Pondok berjanji, akan memanggil orang tuanya dan akan mencopot empat orang pengurus Osis Divisi Keamanan dari tugasnya sebagai kepengurusan Osis, selain itu mereka akan di skor.

Ia juga akan meningkatkan antisipasi agar hal yang serupa tidak terjadi. Selain itu nanti seluruh Pengurus Osis
akan ditata ulang dan akan memutus mata rantai ini. Dan sekarang tegasnya mencari jalan keluar, mudah-mudahan ini ada jalan keluar.

Dari pantauan dilokasi turut juga di panggil empat siswi yang diduga melakukan perbuatan tidak senonoh itu, mereka adalah BL, SL, PT, dan NR mereka di Pondok Pesantren Ar-Risalah duduk di bangku kelas XI, dan dalam kepengurusan Osis mereka di Divisi Keamanan.

Mereka mengakui perbuatannya dan meminta maaf kepada orang tua siswi dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2019

9 Comments

9 Comments

  1. Anonim

    19 Januari 2020 at 20:03

    pesantren kok cak itu…

  2. Anonim

    19 Januari 2020 at 21:53

    Dak senono, kurang ajaran mecak eh tu,
    Dan lagi nk madek2 ah, metang anggota osis.

  3. Anonim

    19 Januari 2020 at 23:32

    Waduh jadi sirna deh pengin masukin anakku disana

    • Anonim

      20 Januari 2020 at 05:24

      Dak mikir makai otak osis kalo ck itu

    • Ardiansya

      20 Januari 2020 at 23:45

      Maaf itu bukan brarti pondok nya yang salah, tidak ada pondok yg mengajarkan kepada para santrinya untuk berbuat yg tidak baik, yang salah itu si osisnya (pelaku) karena mungkin perbuatan si pelaku itu kebiasaan dari pekalangan rumahnya (pergaulan dari desa tempat dia tinggal tersebut)

  4. Noname

    20 Januari 2020 at 06:49

    Harusnya dikeluarin tw bkn diskors doang,, soalnya perbuatan mereka sdh diluar batas wajar..

  5. Anonim

    20 Januari 2020 at 19:05

    Assalamualaikum, kalau bisa anak itu di keluarin aja, sudah kelewat batas, ponpes harus jadi rujukan untuk benteng moral dan raga dari keterpurukan moral oleh medsos dan narkoba, jangan di jadikan tempat buli anak anak, ponpes bukan penjara, bukan tempat anak di hina, tapi tempat yang penuh Rahmat dan kasih sayang , soalnya kita orang tua mereka itu ya ustadz ustadz di ponpes, harus dikeluarkan, Titik. Banyak yang mau mendaftar tapi mundur mendengar kabar ini, karena orangtua ketakutan anak-anak nya di buli,

  6. Anonim

    21 Januari 2020 at 16:54

    Ado² bae tingkah laku budak jaman skrg..
    Semoga cepet dpt hidayah mereka² yg bersalah itu, la tau najis mun sekironyo nak jadi senior bukan cak itu jgo caranya. Ajari mereka berakhlak yg baik pasti malah wong tuonyo kasih apresiasi.

    Jadikan pelajaran untuk kito galo², bener memg yg salah bukan pesantrenyo tp oknum² yg bikin namo pesantren malah rusak dimata masyarakat. Tp ado baiknyo diberi sanksi tegas kepada mereka yg sudh menyalahi aturan dari pihak pesantrennyo 🙏🏻

  7. Anonim

    26 Januari 2020 at 13:13

    Saran dari saya lebih baik yg mengospek anak2 itu ustad dan ustadzah aja,karena itu lebih efektif dan tidak disalh gunakan jabatan sebagai osis, lebih baik di dalam pesantren itu jangan ada namanya osis itu akan lebih baik lagi

Apa Komentarmu

More in Pendidikan

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top