Connect with us

Polres Mura Ikuti Pelatihan Pemulasaran Jenazah dan Penanganan Pasien Terdeteksi Covid 19

IKUTI: Personel Polres Mura saat mebgikuti pelatihan Pemulasaraan Jenazah dan Penangangan Pasien Terdekteksi Covid 19 di Gedung Atmani Wedhana Mapolres Mura, Rabu (5/8/2020).

Musirawas

Polres Mura Ikuti Pelatihan Pemulasaran Jenazah dan Penanganan Pasien Terdeteksi Covid 19

*Sesuai Aturan UU No 24 2007, Presiden, Keputusan BNPB, Fatwa MUI dan Kementerian Kesehatan

MUSI RAWAS LK-Polres Mura mengejar pelatihan Pemulasaraan Jenazah dan Penangangan Pasien Terdekteksi Covid 19 di Gedung Atmani Wedhana Mapolres Mura, Rabu (5/8/2020).

Dalam pelatihan ini, Kapolres Mura, AKBP Efrannedy diwakili Kabag Sumda, Kompol Apikan serta pemateri Urkes Polres Mura, dr Viktor.

Kapolres Mura, AKBP Efrannedy saat dikonfirmasi mengatakan bahwa dasar hukum mengelar pelatihan ini pertama UU Nomor 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana, peraturan presiden nomor 17 tahun 2018 penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam keadaan tertentu.

Lalu, surat keputusan kepala BNPB nomor 9.A tahun 2020 tentang penetapan status keadaan tertentu darurat bencana wabah penyakit akibat virus coro di Indonesia.

“Serta, surat keputusan kepala BNPB nomor 13.A tahun 2020, Fatwa MUI nomor 14 tahun 2020, dan Fatwa MUI nomor 18 tahun 2020 serta pedoman pencegahan dan pengendalian covid 19 kementerian kesehatan,” kata kapolres.

Kapolres menjelaskan, tujuan pelatihan ini, penanganan jenazah yang meninggal dengan penyakit menular diluar fasilitas pelayanan kesehatan, kedua mencegah terjadinya penularan penyakit dari jenazah kepetugas pemulasaran.

“Serta, ketiga mencegah terjadinya penularan penyakit dari jenazah ke individu, keluarga, lingkungan dan masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, kapolres menjelaskan, adapun kriteria jenazah yang pertama jenazah dari dalam rumah sakit dengan diagnosis ISPA, Pneumonia ARDS dengan atau tanpa keterangan kontak dengan penderita covid 19 yang mengalami perburukan kondisi dengan cepat.

Lalu, kedua jenazah pasir dalam pemantauan (PDP), dari dalam rumah sakit sebelum keluar hasil SWAB, dan ketiga, jenazah dari luar rumah sakit, yang memiliki riwayat yang termasuk ke dalam Orang Dalam Pengawasan (ODP), atau PDP, hal ini termasuk pasien Death On Arrival (DOA), rujukan dari rumah sakit lain.

“Jadi semua itu ada tujuan dan kriterianya,” ucap kapolres.

Sementara itu, Pemateri Urkes Polres Mura, dr Viktor mengatakan bahwa, selain itu juga ada pedoman memandikan jenazah tepapar corona, pertama jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya, kedua petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah yang dimandikan dan dikafani.

Ketiga, jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis kelelamin sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada, dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian, jika tidak, maka ditayamunkan.

“Keempat, petugas membersihkan najis (jika ada sebelum memandikan),” jelas dr Viktor.

dr Viktor kembali menjelaskan, kelima petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan air secara merata ke seluruh tubuh, keenam jika atas pertimbangan akhli yang terpercaya bahwa jenazah tidak mungkin dimandikan, maka dapat diganti dengan tayamun.

“Serta terakhir, jika menurut pendapat akhli yang terpercaya bahwa memandikan atau menayamunkan tidak mungkin dilakukan karena membahayakan petugas, maka berdasarkan ketentuan darurat syar’iyyah, jenazah tidak dimandikan atau ditayamunkan,” papar dr Viktor.

Kembali dokter menjelaskan, kemudian ada pedoman memakamkam jenazah diantaranya pertama, dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah dan protokol medis, kedua dilakukan dengan cara memasukan jenazah bersama petinya didalam liang kubur tanpa harus membuka peti, plastik dan kafan.

Ketiga, pengkuburan beberapa jenazah dalam satu liang kubur dibolehkan karena darurat (al-dlarurah al-syar’iyyah), sebagaimana diatur dalam ketentuan Fatwa MUI nomor 34 tahun 2004 tentang pengurusan jenazah (Tajhiz al-Jana’iz), dalam keadaan darurat.

Lebih lanjut, ia memaparkan, kemudian untuk protokol pengurusan jenazah pasien covid 19, pengurusan jenazah pertama pengurusan jenazah pasien covid 19 dilakukan oleh petugas kesehatan pihak rumah sakit yang telah ditetapkan oleh kementerian kesehatan.

Kedua, jenazah pasien covid 19 ditutup dengan kain kafan/bahan dari plastik (tidak dapat tembus air), dapat juga jenazah ditutup dengan bahan kayu atau bahan lain yang tidak mudah tercemar, ketiga jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi, kecuali dalam keadaan mendesak seperti autopsi dan hanya dapat dilakukan petugas.

“Terakhir, jenazah disemayamkan tidak lebih dari 24 jam,” tuturnya.

dr Viktor menambahkan, untuk salat jenazah, pertama pelaksanaan salat, dilakukan dirumah sakit rujukan, jika tidak salat jenazah bisa dilakukan di masjid yang sudah dilakukan proses pemeriksaan sanitasi secara menyeluruh dan melakukan disinfektan setelah salat jenazah.

Kedua salat jenazah dilakukan segera mungkin dengan mempertimbangkan waktu yang telah ditentukan yakti lebih dari empat jam, Serta, salat jenazah dapat dilaksanakan sekalipun oleh satu orang.

Dan yang terakhir, penguburan jenazah mempunyai ketentuan diantaranya, pertama lokasi penguburan harus berjarak setidaknya 50 meter dari sumber air tanah yang digunakan untuk minum, dan berjarak setidaknya 500 meter dari pemukiman terdekat.

“Jenazah harus dikuburkan pada kedalaman 1,5 meter, lalu ditutup dengan tanah setinggi 1 meter, serta setelah semua prosedur jenazah dilaksanakan dengan baik, maka pihak keluarga dapat turut dalam penguburan jenazah,” tutupnya.(Roem)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Apa Komentarmu

More in Musirawas

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top