Connect with us

Karyawan Pemanen PT. PHML Mogok Kerja

Musirawas

Karyawan Pemanen PT. PHML Mogok Kerja

MUSI RAWAS LK- Ratusan karyawan pemanen PT Perkebunan Hasil Musi Lestari (PHML) di Desa Pelawe Kecamatan BTS Ulu, Selasa (19/11) melakukan aksi mogok kerja secara massal.

Dimana aksi tersebut dilakukan karyawan, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang diambil pihak perusahaan, yang dinilai sangat menekan dan terlalu membebani para pekerja.

Diketahui, aksi mogok kerja yang sudah dilakukan sejak Senin lalu tersebut berbuntut pada aksi damai seluruh pemanen PT PHML dari Afdeling satu sampai sepuluh dengan mengajukan nota keberatan atas peraturan yang di terapkan oleh managemen PT PHML yang dirasakan peraturan tersebut sangat menekan pekerja lapangan.

“Ada beberapa tuntutan yang kami sampaika kepada pihak perusahaan, terkait dengan penolakan kebijakan-kebijakan yang diterapkan perusahaan. Untuk sebagai bentuk protes, kami (karyawan pemanen) melakukan aksi mogok kerja bersama. Hari ini (kemarin, red) sudah yang kedua harinya,” kata Sawiran salah seorang perwakilan karyawan, kepada awak media.

Dikatakannya, kendati sudah menadapat ancaman dan tekanan dari pihak perusahaan. Dimana jika aksi mogok kerja tersebut dilakukan tiga hari berturut-turut, maka akan dianggap mengundurkan diri sebagai karyawan.

Namun hal tersebut tidak membuat karyawan kendor, selama tuntutan yang disampaikan belum dipenuhi oleh pihak perusahaan.

“Kami tidak akan kembali bekerja sampai tuntutan yang kami sampaikan ditanggapi oleh pihak perusahaan. Kemudian jika memang pihak perusahaan menginginkan kami (karyawan pemanen) mundur, maka kami menuntut adanya pemutihan karyawan,” ungkapnya.

Untuk diketahui, setidaknya ada 11 tuntutan yang disampaikan oleh karyawan pemanen kepada managemen PT PHML, diantaranya tidak mengakui adanya Serikat Pekerja Kebun Pabrik (SPKP) yang dibentuk tidak berdasarkan pemilihan secara demokrasi dan pembentukan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tidak melibatkan karyawan khususnya pemanen.

Serta menuntut agar HRD diganti. Lantaran dianggap menyengsarakan karyawan pemanen, dengan peraturan yang diterapkannya yang hanya menguntungkan pihak perusahaan.

Seperti halnya pemotongan gaji karyawan secara sepihak.

“Kami ingin agar sistem Kali Brasi dihapuskan, karena upah yang kami terima tidak sesuai dengan UMK yang telah ditetapkan. Diaman upah karyawan selama ini dihitung dengan basis borong 1.200 Kg dalam sehari dengan upah Rp117.800. Jika tidak tercapai, maka akan dibagikan dan upah kami pasti dikurangi,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga menuntut agar sistem pengupahan SKU Bulanan yang menghitung 25 hari kerja dihapuskan.

Termasuk juga hak cuti karyawan yang penuh dan tidak dipotong cuti hari raya. Kemudian meminta agar perhitungan premi pemanen naik dan juga tunjangan anak dan istri dinaikkan, karena sudah tidak sesuai dengan harga sembako saat ini.

“Pengangkatan karyawan BHT ke SKU dipastikan setiap tahun, mengingat masih banyak karyawan bersatus BHT yang lebih dari 5 tahun kerja. Kami menolak jika harus mengumpulkan berondolan kering, menyamtumkan diagnosa di surat keterangan sakit, karena itu termasuk membuka aib,” tutupnya.

Sementara itu, Senior Manager PT PHML Ponijan yang menerima rombongan pemanen menyampaikan, pihaknya tidak dapat memberikan jawaban atas apa yang menjadi tuntutan para karyawan.

Terlebih aksi yang dilakukan karyawan tidak memenuhi prosedur, dan pihak perusahaan juga sebelumnya belum mendapat pemberitahuan.

“Tuntutan seluruh pemanen diterima dan selanjutnya akan dilaporkan kepada direksi. Apapun jawabannya akan disampaikan kepada seluruh karyawan pemanen,” tutupnya.(Roem)

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Musirawas

Trending

Terkini

RSS ANDROID NEWBIE ID

LinggauKlik

To Top