Connect with us

GMNI Kembali Datangi Kantor DPRD Mura, Ini Masalahnya

Eris yong hengki, ketua DPC GMNI MLM saat melakukan orasi didepan Gedung DPRD Musirawas

Musirawas

GMNI Kembali Datangi Kantor DPRD Mura, Ini Masalahnya

MUSIRAWAS,LK-Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) cabang Lubuklinggau, Musirawas dan Muratara, menggelar aksi lanjutan dengan turun kejalan, Senin (26/10/2020).

Mereka lembali turun kejalan dalam rangka menyampaikan persoalan penindasan terhadap petani (marhaen) dan konflik agraria yang terjadi di kabupaten Musirawas.

Eris yong hengki, ketua DPC GMNI MLM, menuturkan Sebagaimana seperti yang telah kami jelaskan dimuka, bahwa ia menentang segala bentuk penindasan, baik diatas manusia terhadap manusia lainnya maupun diatas negara terhadap negara lainnya.

Dirinya menyampaikan, Dimana berbagai upayah dan tindakan yang telah  dilakukan Mediasi, Melakukan pendampingan Terhadap petani (marhaen) Yang tertindas akan adanya dugaan kriminalisasi dan konflik agraria yang terjadi) di PT. ASMR (Agro Sawit Musi Rawas.

Tetapi dambungnya belum juga ada penyelesaiannya.

“Bahkan kami telah menyampaikan surat aduan dan laporan kepada pihak DPRD Kabupaten Mura,”jelasnya.

Maka dengan ini, GMNI sampai turun ke jalan kembali mempertanyakan kejelasan dari surat aduan, telah sejauh mana ditindaklanjuti oleh pihak DPRD dan dirinya menyampaikan kembali apa yang menjadi aspirasi masyarakat dimana terdapat dugaan adanya kesewenang-wenangan yang terjadi terkhususnya terhadap masyarakat yang berada di desa Tambangan Kecamatan  BTS Ulu Kabupaten Musirawas lokasi PT. ASMR.

Maka dari itu, GMNI menuntut dan Mendesak DPRD dan Pemerintah Kabupaten Mura Serta instansi-instansi terkait untuk Mengusut tuntas dugaan kegiatan ilegal yang dilakukan oleh PT. ASMR.

Dimana GMNi ketika melakukan aksi di sambut dengan baik oleh pihak DPRD dan di pasilitasi untuk duduk bersama (audiensi) bersama pihak Pemkab, Polres serta dinas-dinas terkait.

Namun sangat di sayangkan, audiensi yang berjalan alot tersebut belum menemukan titik temu solusi kongkrit, karena ketika mediasi tersebut berlangsung tidak di hadiri oleh pihak perusahaan.

Dan bahkan penjelasan dari pihak pemda serta dinas-dinas terkait semakin membuka serta semakin memperjelas, bahwa memang benar terjadinya keteledoran atau kelalaian dari dinas-dinas terkait persoalan konflik agraria.

GMNI sendiri mendapatkan penjelasan dari dinas perizinan yang mengatakan  bahwa PT. ASMR ini mulai memiliki izin lokasi pada tahun 2015 dengan luas lahan kurang lebih 1089 hektar. Namun dengan berjalannya waktu hingga 2019 terkahir perusahan tersebut telah habis izin lokasinya dan tidak di perpanjang oleh pihak perusahaan.

“Maka untuk itu semakin jelaslah bahwa status perusahaan ini ilegal untuk saat ini dan tentunya tidak memiliki HGU,”tuturnya.

Selanjutnya Evan maulana, sekretaris cabang GMNI menambahkan bahwa
berdasarkan hasil dari aksi dan audiensi bersama DPRD, Pemkab, Polres Mura serta dinas-dinas terkait, GMNi tadi mendapatkan kejutan yang luar biasa, dimana selama ini PT. ASMR tersebut selama ini berstatus sebagai Perusahaan berubah menjadi lahan perseorangan setelah adanya kasus dugaan tindak kriminalisasi terhadap petani.

Bahkan semua ini semakin memperjelas akan adanya tabir-tabir kepalsuan serta semakin memperjelas banyaknya dugaan adanya permainan oknum-oknum di dalam kasus konflik agraria ini.

“Untuk itu kami dari DPC GMNI, semakin semangat untuk mengusut konflik agraria ini hingga setuntas-tuntasnya,”terang ia.

GMNI juga akan terus mengawal, mengawasi serta menagih janji DPRD, Kabupaten Mura untuk segera mempasilitasi mediasi bersama Pemkab, PT. ASMR, Polres, serta dinas-dinas terkait agar mendapatkan solusi kongkrit yang tentunya berpihak kepada rakya.

Jika sambungnya, persoalan ini tidak segera ditindaklanjuti sebagai mana janji dari DPRD, maka tentunya GMNI pastikan bahwa GMNI akan melakukan aksi kembali.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2020

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Musirawas

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top