Connect with us

Angka Kemiskinan di Mura Hanya Turun 0,48 Persen‎

Musirawas

Angka Kemiskinan di Mura Hanya Turun 0,48 Persen‎

MUSI RAWAS LK– ‎Dibanding 2017 lalu, angka kemiskinan di Kabupaten Musi Rawas (Mura), di 2018 ini hanya mengalami penurunan  0,48 persen atau sebanyak 1.210 jiwa dari 14,24 persen atau 55.960 jiwa penduduk Mura pada Maret 2017.
‎Demikian disampaikan, Kepala Badan Pusat Statistika (BPS) Kabupaten Mura, Aldianda Maisal saat dimintai keterangan usai menyampaikan data dan profil kemiskinan Kabupaten Mura Maret 2018, kepada Bupati Mura H Hendra Gunawan.

“Untuk per Maret 2018 kemarin, angka penduduk miskin di Kabupaten Mura masih 13,76 persen atau sebanyak 54.750 jiwa. Dimana angka kemiskinan ini dipengaruhi beras oleh komonditas makanan, seperti beras, rokok kretek filter, daging ayam ras, telur ayam ras, mie instan, gula pasir dan cabe merah,” kata Aldianda Maisal.‎

Aldianda menjelaskan, sedangkan‎ komonditas non-makanan, seperti perumahan, listrik bensin, pendidikan dan juga perlengkapan mandi. Dari data tersebut, pada periode Maret 2017 ke periode Maret 2018, baik indek kedalaman kemiskinan maupun indeks keperahan kemiskinan sama-sama mengalami penurunan.

‎Bahkan lanjut ia, angka kemiskinan di Kabupaten Mura sejak tiga tahun ini terus mengalami penurunan. Seperti halnya di periode Maret 2015 ke periode Maret 2016 mengalami penurunan 0,83 persen, yakni dari 15,13 persen atau 58,010 ribu, turun menjadi 14,30 persen atau 55,500 jiwa.
“‎Kemudian, untuk periode Maret 2016 ke periode Maret 2017 turun sebanyak 0,06 persen., Dari persentase 14,30 persen atau sebanyak 55.50 ribu orang, menjadi 14,24 persen atau sebanyak 55,96 ribu orang,” jelasnya.‎

Kembali ia menjelaskan, d‎isamping itu, masih tingginya angka kemiskinan di Mura dikarenakan garis kemiskinan di periode Maret 2018 juga mengalami kenaikan jika dibandingkan periode Maret 2017.

“Kenaikan terjadi sebesar 8,87 persen atau Rp34.855. Dari Rp392.740 perkapita perbulan menjadi Rp427.595perkapita perbulan pada Maret 2018,” ucapnya.‎

‎Dikatakannya, untuk mengukur kemiskinan BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non-makanan yang diukur dari sisi pengeluaran.
‎Sedangkan untuk metode yang digunakan, yakni dengan menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen yaitu garis kemiskinan makanan dan non-makanan. Sehingga, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah Garis Kemiskinan. (Roem Royen)‎

 

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Apa Komentarmu

More in Musirawas

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top