Connect with us

30 Warga Jalani MOW dan MOP

Musirawas

30 Warga Jalani MOW dan MOP

MUSI RAWAS LK– Sebanyak 30 warga Kabupaten Musi Rawas (Mura), menjalani Medis Operasi Wanita (MOW), dan Medis Operasi Pria (MOP) atau lebih dikenal dengan tubektomi dan vasektomi. Hal tersebut dilakukan dengan maksud tidak ingin menambah jumlah anak yang dilahirkan.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Mura Jemain, melalui Kasubid Jaminan Pelayanan Keluarga Berencana Osrini mengatakan, dimana jumlah tersebut dengan rincian sebanyak 23 warga menjalani MOW dan sebanyak 7 warga menjalani MOP.
“Dimana jumlah tersebut untuk 2018 ini saja, terhitung sejak Januari sampai September ini, yang lebih didominasi dengan tinggi angka MOW atau peserta perempuannya,” kata Osrini.
Dikatakannya, bahkan jumlah tersebut terbilang tinggi, jika dibandingkan dengan kabupaten atau kota lainnya, yang rata-rata tidak mencapai angka tersebut. Operasi tersebut adalah operasi kecil bagi mereka yang tidak ingin menambah jumlah anak yang dilahirkan oleh pasangan tersebut.
“Vasektomi sendiri menurut dia adalah operasi kecil untuk mencegah transportasi sperma pada testikel dan penis. Cara ini merupakan prosedur untuk mencegah terjadinya kehamilan karena bersifat permanen,” jelasnya.
Sedangkan untuk tubektomi lanjut ia, yakni operasi untuk melakukan pemotongan saluran indung telur (tuba fallopi) sehingga sel telur tidak dapat memasuki rahim untuk dibuahi. Operasi ini bersifat permanen, namun dapat disambungkan kembali.Akan tetapi, tingkat fertilitasnya tidak akan kembali seperti sedia kala.
“Mereka yang sudah melakukan bedah ini, tidak akan bisa memiliki anak lagi. Jika tidak ada kehendak dari Yang Maha Kuasa, karena memang sifatnya permanen. Namun melihat jumlah peserta baik MOW maupun MOP, Kabupaten Mura terbilang tinggi. Karena biasanya kabupaten/kota tidak sampai sebanyak itu,” ungkapnya.
Ditambahkannya, hanya saja sampai saat ini masih saja ada warga yang tidak mau untuk melakukan metode keduanya. Hal itu dikarenakan, masih adanya rasa takut, sebab operasi itu dilakukan langsung di alat kelamin mereka.
“Ada juga yang malu. Tapi untuk melakukannya harus ada keyakinan penuh dalam dirinya, karena ini sifatnya permanen. Sedangkan untuk warga yang bersedia melakukan MOW maupun MOP ini, dengan berbagai alasan, selain tidak ingin menambah anak, juga ada yang karena penyakit, baik itu suaminya maupun prianya,” imbuhnya.
Bahkan sambung ia, dasri 30 warga yang menjalani MOW maupun MOP, lebih didominasi warga dari Kecamatan Megang Sakti dan Kecamatan Muara Kelinggi. Tak hanya itu masih katanya, untuk warga yang ingin melakukan MOP maupun MOW, tidak serta merta langsung disetujui, melainkan ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi.
“Yang pertama berkoordinasi dengan pemerintah setempat, maupun petugas KB dilapangan. Setelah itu cek kesehatan di Puskesmas, setelah pihak puskesmas menyatakan aman, kita rujuk kembali ke rumah sakit dan dilakukan pengecekan kesehatan ulang, dan memastikan tidak darah tinggi maupun memiliki penyakit dalam lainnya. Kemudian jika mamang terdiagnosa ada penyakit laun maupun darah tinggi, maka harus diobati dulu. Baru kemudian baru dilakukan operasi. Hanya saja dalam hal ini, DPP-KB hanya memfasilitasinya,” tutupnya. (Roem Royen)

 

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Apa Komentarmu

More in Musirawas

Trending

Terkini

RSS ANDROID NEWBIE ID

LinggauKlik

To Top