Connect with us

Pemkab Muratara Berhasil Garap 3.000 Lahan Terlantar

Foto Calin Bupati Muratara Syarif Hidayat saat bersama istrinya saat berada di sawah

Muratara

Pemkab Muratara Berhasil Garap 3.000 Lahan Terlantar

MURATARA,LK-Upaya optimalisasi pemanfaatan lahan terlantar terus dilakukan Pemkab Muratara melalui dinas terkait. Alhasil, sejak 2016 hingga kini, sedikitnya 3.000 hektar lahan terlantar telah disulap menjadi lahan produktif. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Muratara, Suhardiman melalui Kabid Sapras, Ade Meri kepada wartawan, Rabu (25/11).

“Pada 2020 sudah 700 hektar lahan yang kami kembalikan fungsinya. Sebelumnya sudah sekitar 2.300 hektar lahan tidur telah dimanfaatkan. Dengan begitu, sudah 3.000 hektar lahan terlantar di Muratara telah digarap menjadi produktif,” jelas Ade Meri..

Ia menyebutkan, ada sekitar 7.000 hektare lahan potensial di wilayah Muratara yang belum digarap maksimal.
Lahan dimaksud banyak ditinggal masyarakat karena dianggap tidak ekinomis. Pasalnya, mayoritas lahan pertanian di Muratara merupakan lahan marginal berupa lawah lebak. Tergenang periodik akibat banjir saat musim penghujan dan kekurangan air saat kemarau.

“Mayoritas kita sawah tadah hujan, jadi cuma bisa panen satu kali dalam satu tahun. Karena sering terkena bencana banjir dan kekeringan, makanya banyak lahan sawah di wilayah kita ditinggalkan masyarakat,” kata Ade.

Dia mengungkapkan, pemerintah daerah sudah berupaya untuk meningkatkan potensi lahan tidur tersebut. Dengan melakukan optimalisasi seperti, menggunakan sistem pompanisasi, membuat saluran irigasi, hingga pembagian bibit dan lainnya.

Ade menambahkan, pihaknya terus mendorong peningkatan produksi pertanian di Muratara. Sehingga bisa panen dua kali dalam setahun.

“Bahkan saat ini sudah ada yang panen sampai tiga kali dalam setahun di Muratara. Meski rata rata banyak yang dua kali panen. Estimasi produkai sekitar lima ton per hektar dan pada 2020 ada sekitar 30.000 ton produksi padi di wilayah Muratara,” terang dia.

Meski masih ada sekitar 4000 hektar lagi lahan potensi yang belum digarap di Muratara, pihaknya menegaskan selalu melakukan pembukaan lahan secara bertahap. “Kami lakukan pembukaan lahan secara bertahap. Untuk mengatasi masalah lahan di Muratara, kamj terapkan sistem pompanisasi dan membuka saluran saluran irigasi,” kata Ade.

Petani di Kecamatan Rupit, Wasir mengakui ada beberapa kendala yang sering dihadapi masyarakat saat hendak menggarap lahan. Seperti lahan yang sering kebanjiran hingga alami kekeringan saat musim penghujan.

“Di wilayah kito Muratara rato rato sawah tadah hujan, idak seperti di Tugumulyo Musi Rawas, ado irigasi besak. Dulu banyak yang besawah karno sering kekeringan jadi ditinggalkan,” katanya.

Hal ini juga dialami petani di Desa Bingin Rupit Kecamatan Rupit. Seperti diungkapkan Kades setempat, Hengki Basip. Ia membenarkan banyak sawah yang ditinggalkan masyarakat. Namun mereka terus berupaya untuk melakukan optinalisasi dan mengajak masyarakat kembali keladang.

Pihaknya mengaku sempat terkendala untuk mengajak masyarakat kembali berladang. Namun kondisi itu berhasil setelah disiasati dengan sistem bagi hasil yang dilakukan Badan Usaha Milik desa dengan pemilik lahan.

“Dulu ratusan hektar sawah di sini ditumbuhi ilalang selama puluhan tahun. Tapi sekarang sudah kami garap bersama, sudah banyak lahan yang difungsikan kembali dengan sistem bagi hasil,” timpalnya.(rls/roem)

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Muratara

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top