Connect with us

Aktivitas Ilegal Drilling di Rawas Ilir Diduga Libatkan Banyak Oknum, Begini Cara Mainnya

Foto aktivita warga saat melakukan aktivitas ilegal driling di Kecamatan Rawas Ilir Kabuoaten Muratara

Muratara

Aktivitas Ilegal Drilling di Rawas Ilir Diduga Libatkan Banyak Oknum, Begini Cara Mainnya

MURATARA,LK-Warga di Desa Beringin Makmur, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara mengendus adanya dugaan ilegal driling atau pengeboran minyak tanpa izin, yang telah melakukan aktivitas pertambangan di pemukiman warga.

Linggauklik.com melansir Palpres.com Hampir tiga bulan aktivitas pengeboran minyak tradisional berada di pemungkiman warga dan dekat dengan pusat Pemerintahan Kecamatan Rawas Ilir. Diduga pengeboran minyak secara ilegal (Ilegal Dirilling) itu bisa berjalan mulus, karena ada praktik ‘main mata’ dengan oknum-oknum tertentu untuk.

Karena baru sekarang dampak pencemaran dirasakan masyarakat hingga mereka harus mengungsi sementara dan adanya desakan masyarakat untuk dilakukan penghentian aktivitas tersebut, akhirnya dilakukan rapat mediasi bersama masyarakat terdampak, pemilik sumur bor, unsur Muspika Rawas Ilir bersama Polres Muratara di Kantor Kecamatan Rawas Ilir, Kamis (6/8/20).

Berdasarkan pantauan Palembang Ekspres di lokasi, kegiatan rapat mediasi yang dipimpin langsung Camat Rawas Ilir, Heri Martoni bersama unsur muspika dan perwakilan Polres Muratara itu, terdapat pengakuan yang mengejutkan dari pelaku pengeboran, SW, yang secara blak-blakan menyebut oknum sejumlah instansi menerima setoran untuk memuluskan aktivitasnya.

Disampaiakan langsung SW saat ditanya langsung Kabag Ops Polres Muratara, Kompol Hermansyah, bahwa sebelum dia melakukan aktivitas pengeboran minyak tersebut pertama kali menemui oknum di Polsek Rawas Ilir. Saat itu dia menanyakan bagaimana untuk koordinasinya, oknum itu minta bagian Rp 65 ribu perdrumnya.

“Lebih baik kita buka-bukaan saja biar jelas, jadi pada saat itu oknum itu meminta Rp 65 ribu per drumnya dari hasil minyak yang saya bor itu. Saya pikir terlalu mahal, dan saya berencana mau tawar karena saya mengebor itu belum tentu ada minyaknya. Tetapi karena saya pikir dari pada tawar menawar, saya sepakat dan langsung melakukan pengeboran,” ungkapnya.

Kemudia dia melakukan pengeboran yang berlokasi dibelakang Koramil Rawas Ilir, “Pertama kali melakukan pengeboran itu keluarlah minyak itu, kemudian oknum tari meminta menjadi Rp 85 ribu per drumnya. Saat itu saya bilang jangan seperti itu, dan saya minta kalau bisa kita buat perjanjian tertulis tetapi dia tidak mau. Kesimpulannya saat itu saya meminta siapa saja nama penerima dari Rp 85 ribu itu, dan kemudia oknum itu memberikan catatan nama-nama dimaksud,” jelasnya.

Lanjutnya, dicatatan itu ada oknum Pemerintah Kecamatan, oknum pimpinan militer, Kepolisian hingga Desa dengan kisaran Rp Rp 10 ribu/drum hingga Rp 20 /drum, sehingga total seluruhnya Rp 85 ribu. “Kemudian oknum tadi kembali nego untuk 15 persen dari hasil penjualan minyak, dan sekarang selalu saya bayar. Bahkan ditunggunya ditempat muat dilokasi, seperti kemarin itu 30 drum saya bayar total Rp. 2.475.000,” paparnya.

Jadi, lanjutnya, dia melakukan pengeboran itu kalau tidak ada kesepakan tidak mungkin dilakukan. Diakuinya izin secara tertulis memang belum ada, tapi kalau tidak percaya dia minta agar oknum tersebut dipanggil untuk diklarifikasi.

Saat ditanya Kabag Ops terkait dengan siapa dia memberikan uang itu, SW mengaku utusan dari Polsek untuk mengambil uang itu yang kebetulan masih asli orang sini.

Sementara Kabag Ops Polres Muratara, Kompol Hermansyah dalam rapat menguapkan, saat ini dia belum bisa memberikan keputusan karena pihaknya disana untuk mengumpulkan keterangan. Tetapi segera akan dia laporkan untuk dibawa ke Polres. Berdasarkan keinginan masyarakat kalau pengeboran itu ilegal, cepat lambat akan dilakukan penutupan.

“Kalau ilegal akan ditutup karena secara hukum tidak memiliki izin, kita akan laporkan semua ke Kapolres karena ini bahaya dan kalau sampai meledak bisa kemana-mana,” tegasnya.

Sementara itu, Camat Rawas Heri Martoni mengakui tidak mengetahui hal itu. “Tanya saja siapa yang bernegosiasi, karena sejauh ini saya belum pernah menerima apapun. Belum sampai atau gimana saya tidak tahu, dan kalau memang ada yang mengasih uang, siapa sih yang tidak mau,” ujarnya singkat.

Sebelumnya Linggauklik.com membuat pemberitaan Warga di Desa Beringin Makmur II, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara mengendus adanya dugaan ilegal Drilling atau pengeboran minyak tanpa izin yang telah melakukan aktivitas pertambangan di pemukiman warga.

Menurut SM (40) warga setempat Pengeboran minyak ilegal itu tepatnya depan Kantor Camat Rawas Ilir, yang meresahkan masyarakat.

“Karena sekarang dengan pengeboran itu menimbulkan gas keluar berasap dan suara dentuman,”kata SM kepada wartawan, Kamis (6/8/2020).

Dijelaskannya, akibat dari ilegal Drilling tersebut, membuat warga setempat banyak yang mengungsi, karena bau gas yang menyengat, termasuk ia juga mengungsi karena tidak tahan.

“Karena bau ada juga warga yang pingsan dan harus dilarikan ke Pukesmas,”jelasnya.

Kapolres Muratara AKBP Adi Witanto melalui Kapolsek Rawas Ilir Iptu Aprinaldi saat dikonfirmasi dirinya membenarkan ada aktivitas yang diduga ilegal driling tersebut.

“Saat ini kita lagi rapat di Kantor Camat untuk membahas penutupan minyak tersebut,”ujarnya singkat.

Sementara Kapolres Musi Rawas (Mura) AKBP Adi Witanto saat Linggauklik.com mencoba menghubungi meminta klarifikasi terkait dugaan adanya oknum anggota Polres Muratara yang terlibat, hingga kini Sabtu (8/8/2020) belum ada jawaban.(rdw)

Baca Juga: Diduga Ilegal Drilling, Warga di Rawas Ilir Mengungsi Karena Tak Tahan Bau Gas Menyengat

Sumber: Palpres.com

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Muratara

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top