Connect with us

Saat Merdeka Indonesia Tak Punya Tentara, dan Ini Awal Berdirinya Museum Subkoss di Linggau

Museum Sub Komando Sumatera Selatan (Subkoss) di Jalan Garuda Hitam, Kelurahan Pasar Pemiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat 2, Kota Lubuklinggau dan berada di dekat Taman kurma yang dulunya adalah sebuah sejarah yang dikenal dengan alun-alun lapangan merdeka

Lubuklinggau

Saat Merdeka Indonesia Tak Punya Tentara, dan Ini Awal Berdirinya Museum Subkoss di Linggau

LUBUKLINGGAU,LK-Kota Lubuklinggau menyimpan sejumlah sejarah penting yang berkaitan dengan perjuangan merebut kemerdekaan.

Beberapa sejarah penting tersebut hingga kini tersimpan rapi dan masih bisa dinikmati di Museum Sub Komando Sumatera Selatan (Subkoss) di Jalan Garuda Hitam, Kelurahan Pasar Pemiri, Kecamatan Lubuklinggau Barat 2, Kota Lubuklinggau
dan berada di dekat Taman kurma yang dulunya adalah sebuah sejarah penting yang dikenal dengan alun-alun lapangan merdeka.

Lubuklinggau merupakan kota strategis yang dipilih, Subkoss sebagai Markas Besar Komando Militer Sumsel selama perang  Kemerdekaan I sampai menjelang awal perang kemerdekaan  II. Museum perjuangan pasukan Garuda Sriwijaya, dengan ciri tugu khasnya burung garuda yang siap terbang dan menerkam.

Terkait dengan perang kemerdekaan yang memiliki arti perjuangan rakyat Sumatera Selatan untuk membela kedaulatan Republik Indonesia.

Seorang Sejararawan di Kota Lubuklinggau yang kini sudah berusia 76 tahun ini, dia adalah Swandi Syam, berbaik hati untuk berbagi cerita tentang berdirinya Subkoss di Kota Lubuklinggau.

Saat ditemui  dirumah dengan gayanya sedikit santai, Swandi mau berbagi cerita tentang sejarah Subkoss.

“Jadi indonesia ini merdeka pada 17 Agustus 1945, lalu sebelum kemerdekaan Indonesia ada dua wilayah, waktu dikuasai jepang yang berbasis militer dalam artian rakyat Indonesia yang disekolahkan oleh jepang yakni wilayah Sumatera dan Jawa,”kata Swandi kepada Linggauklik.com dengan penuh semangat Kemerdekaan ia menceritakan.

Di Sumatera ini ada yang namanya Gyugun artinya sekolah Semi Militer Jepang, untuk Sumate Selatan (Sumsel) sekolah semi militer itu adanya di  Pagar Alam dan untuk di Jawa hampir seluruh Kota besar disana ada Sekolah Militernya dan dinamakan Peta yakni pembela Tanah air.

Jadi waktu pemerintahan Jepang Rakyat Indonesia ini, yang muda-muda Sekolah militernya hanya di Sumatera dan Jawa. Ternyata yang latian militer di dua Daerah inilah yang menjadi basis militer Republik Indonesia.

“Sewaktu Indonesia merdeka pada tanggal 17, 18 dan tanggal 19 Jepang melucuti senjata buatan jepang pada semua pasukan,”ungkapnya

Sehingga para pemuda Indonesia Sekolah militer dan senjatanya dilucuti, karena Jepang sudah kalah, sedangkan Republik Indonesia sudah memerdekakan dirinya. Akan tetapi setelah merdeka Republik Indonesia tak punya tentara.

Indoneisa jelas Swandi, memiliki Wilayah, namun tak punya tentara, maka berdirilah Badan Keamanan Rakyat (BKR), dan setelah itu dirubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Disamping TKR itu kan, saat itu ada tentara Hisbullah, ada tentara rakyatlah, lalu akhirnya oleh Republik Indonesia dibentuklah Tentara Nasional Indoesia (TNI) yang pada saat itu jenderalnya bernama Sudirman di wilayah Jawa. Dari Pusatnya  di Jakarta lalu pindah ke Jogjakarta.

Oleh Sudirman lalu dibentuklah Supayah di Sumatera ini dibentuk Komando Militer Sumatera artinya Sumatera itu pada tahun 1946 dibagi atas tiga wilayah, itu komando Sumatera Utara, Komando Sumatera Tengah dan Komando Sumatera Selatan. Dan diatasnya  Amandemen Sumatera.

“Singkat Cerita untuk seluruh Sumatera Selatan adalah 4 Provinsi dulu, namun sekarang telah menjadi 5 Provisin yakni Palembang, Jambi, Lampung, Bengkulu dan Bangka Belitung. Pada waktu dulu Bangka Belitung itu masuk ke wilayah Palembang,”ujarnya.

“Jadi Sub Teritorial yakni Lampung, Garuda Hitam, Bengkulu, Sub Teritorial Garuda Emas, Jambi Garuda Putih dan Sub Toritorial Palembang Garuda Merah. Jadi empat garuda diatas, diatasnya Sub Amandemen Sumatera Selatan atau Subkos,”ujar Pria yang merupakan Dosen Sejarah di Universitas swasta di Lubuklinggau.

Jadi Subkoss waktu itu berada di Palembang dan orang Belanda belum masuk. Saat itukan belanda akan masuk bersamaan dengan Inggris. Pada tanggal 1 Januari  1947 terjadilah perang di Palembang. Yang sebut perang lima hari dan lima malam.

Sedangkan saat itu Subkos sudah berdiri, namun belum bisa mengkoordinasikan dirinya ke semua daerah. Dan tanggal 6 Januari 1957 angkatan parang diminta harus keluar termasuk para pejuang-pejuang rakyat walaupun hanya bersenjata bambu runcing dan sebagainya yang bukan Subkoss.

Namun Pemerintahan Sipil dan Polisi, angkatan laut  boleh tinggal di Palembang.

“Jadi hal tersebut tentu menguntungkan Belanda, semua pasukan militer yang bisa perang, harus keluar 20 Kilometer dari Palembang, sementara sipil Boleh tinggal,”ungkap Swandi saat ditemui Linggauklik.com dirumahnya.

Karena namanya Sumatera Selatan, jadi arah Sumatera Selatan itu yaitu Paya Kabung, Prabumulih, Muara Enim, Lahat, Tebing Tinggi dan Lubuklinggau. Belanda itu sudah punya rancangan karena di perang dunia ke-2 berhutang jadi untuk melunasi hutang itu Belanda harus menguasai Semsel.

Tetapi yang perlu diketahui bahwa Belanda itu ingin mengusasi Sumsel dulu, karena di Sumsel uangnya banyak, jadi Belanda ingin mengambil dana yang berlimpah-limpah dalam waktu tiga Bulan agar bisa membayar Hutang.

Jadi dia janji, kepada Amerika, Inggris, Australia, dan sebagainya l. Jadi sekutu saat itu mendukung belanda, padahal secara Kedudukan dengan Inggris sama, tetapi dia dibonceng.

Sehingga sewaktu perang lima hari lima malam. Belanda miminta perang untuk berhenti itu tujuan untuk mengusai Sumsel. Itu merupakan Politik Belanja saja.

Lalu setelah pasukan perang keluar, pasukan perang diserang terus oleh Belanda, dari Paya Kabung mundur ke Muara Enim. Hinggal tanggal 21 Juli 1947 terjadilah perang kemerdekaan satu.

Sehingga Sub Teritorial Garuda Merah pindah ke Tanjung Enim, Subkoss pindah ke Lahat setelahnya pindah ke Lubuklinggau yang saat ini.

Jadi rumah Subkoss yang berada di Lubuklinggau itu ditunggu pada bulan Juni tahun 1947. Sampai Desember tahun 1948. Artinya Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, Nopember, Desember, enam bulan ditambah satu tahun. Artinya 18 bulan Subkoss bermarkas di Lubuklinggau.

Pada tanggal 18 Desember 1948, Belanda mengusai Jogjakarta. Presiden dan wakil Presiden dan juga menteri ditangkap dibawa ke Bangka. Dan disiarkan kepada Dunia bahwa Republik sudah runtuh karena Pemerintahannya sudah bertekuk lutut.

Tetapi Pejuang Indonesia melakukan komunikasi terus menerus dan mengetahui informasi tersebut. Jadi berunding bahwa nanti apabila semuanya di tangkap, di Bukit Tinggi harus menyatakan dirinya ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI),

Sehingga pada saat Belanda menyiarkan kepada Dunia bahwa Republik Indonesia sudah bertekuk lutut. Dan semua tentara Indonesia berlari ke hutan, sehingga Belanda akan menghancurkan tentaranya Indonesia lagi.

Jadi Itulah sejarah Subkoss di Kota Lubuklinggau, Linggauklik.com  saat menjelang hari kemerdekaan Indonesia akan terus menyajikan berita-berita sejarah di Lubuklinggau yang berkaitan dengan Kemerdekaan Republik Indonesia.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2020

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Lubuklinggau

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top