Connect with us

Saat Hujan Lebat, Keluarga Sairin Harus Pindah Tidur di Tempat Pembakaran Mayat

Lubuklinggau

Saat Hujan Lebat, Keluarga Sairin Harus Pindah Tidur di Tempat Pembakaran Mayat

LUBUKLINGGAU,LK-Miris yang dialami keluarga kurang mampu, Sairin Agus Salim (58) yang tinggal bersama kedelapan anggota keluarganya di sebuah gubuk yang berukuran sekitar 4×3 meter persegi. Saat hujan deras harus pindah tidur ketempat gedung pembakaran mayat orang cina karena atap rumahnya bocor.

Di dalam gubuk yang bersebelahan dengan kuburan cina yang berada di RT 1 Kelurahan Jogoboyo Kecamatan Lubuklinggau Utara II tersebut tempat Sairin bersama istri Yusmara, dan ketujuh buah hatinya tinggal.

Dinding gubuk darurat yang telah ditutup beberapa lembar triplek dan terpal  berkas tersebut Sairin bangun sendiri dengan menumpangi tanah kebun milik saudara jauh.

Pantauan Linggauklik.com di lapangan tak banyak peralatan rumah tangga yang terdapat di gubuk tersebut. Hanya terdapat teko dan panci yang tersedia di gubuk tanpa pintu penutup itu.

Lantai gubuk yang hanya beralaskan dengan potongan bambu yang dilapisi dengan kardus bekas dan kasur yang sudah lapuk tempat kedelapan anggota keluarga itu tidur.

Yang lebih sedihnya lagi diceritakan Sairin, saat hujan deras baik siang maupung tengah malam, dengan sangat terpaksa seluruh keluarganya harus keluar rumah untuk pindah ketempat gedung pembakaran mayat  orang cina yang memang bersebelahan dengan gubuknya. Karena saat hujan atap rumahnya bocor.

Sairin yang merupakan kepala keluarga di rumah tangga tersebut tak punya pekerjaan yang pasti.Terkadang kesehariannya mencari barang bekas dan memotong karet orang,untuk bisa menghasilkan uang untuk keperluan membeli beras dan makan sehari-hari

Pria berusia lebih setengah abad tersebut bertekad tetap mencari rejeki yang halal yang bisa menyambung kehidupan sehari-hari keluarganya.

Dan ia mengeungkapkan, bukannya tidak mau bertani, modal dan tak punya ladang sendiri menjadi kendala baginya.

Ketujuh anaknya, tidak ada yang menyelesaiakan sekolah, mereka putus sekolah sejak dari taman kanak-kanak dan bahkan tidak perna sekolah karena ketidak sanggupan ia untuk menyekolahkan anaknya

“Anak saya dulu perna sekolah di Taman kanak-kanak, namun setelah itu tidak sekolah lagi karena tidak memiliki biaya untu sekolah,”kata Sairin kepada Linggauklik saat diwawancarai, Rabu (18/12/2018).

Ia pun berharap agar pemerintah untuk memperhatikan ekonominya  kedepandannya agar memperhatikan kehidupannya yang tidak berkecukupan dan yang paling penting agar bisa membantu bangunan rumahnya.

“Karena selama ini tidak ada perhatian dari pemerintah sejak ia tinggal di Kelurahan Jogoboyo, memang ada pemerintah bawahan seperti RT dan Lurah yang dulu ada memberikan  perhatian,”ungkap Sairin.

Memang saat ini, Kelurganya sudah di berikan Jaminan kesehatan berupa kartu BPJS dan KIS, namun ia sangat berharap agar pemerintah peduli dengan tempat tinggalnya dan juga masa depan anaknya.

“Anak saya bagaimanapun bisa untuk sekolah agar menjadi orang pintar, bisa mengaji, karena saya tidak bisa mengurusnya karena dak mampu, ya kalau kita mampu tidak mungkin seperti ini,”ungkapnya.

Sementara Camat Lubuklinggau Utara II Muhammad Rozikin mengatakan sehubungan dengan adanya berita yang viral di medsos yakni keluarga pak Sairin Agus Salim memang sudah ia ketahui.

Ia dari pihak Kecamatan dan  Kelurahan, bersama dengan RT yang  melibatkan dari Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamat (TKSK) Dinas Sosial sudah terjun langsung ke rumah pak Sairin pada 26 September 2018.

“Pak sairin ini berasal Jambi dari Luar namun ktpnya dari linggau, dan tinggal di KTP sejak tahun 2017, dan  memang kelurga Sairin tinggalnya berpindah-pindah,”kata Rozikin saat diwawancarai.

Untuk dari pihak pemerintah, dari  Lurah sendiri sudah menyampaiakan bantuan, agar keluarga bersangkutan untuk mengotrak di tempat yang terjangkau

Dan juga pihaknya sudah mengusukkan untuk ikut program bedah rumah, namun program tersebut ditolak dikarenakan untuk program bedah rumah harus bisa menunjukan tanah hak milik, sementara kelurga Sairin tinggal menumpang di tanah yang diketahui milik kelurganya, namun keluarga t tersebut enggan memberikan tanahnya.

“Dan melalui TKSK dinas sosial yang bersangkutan sudah pihaknya data, dan datanya sudah masuk di dinas sosial sebagai warga prasejatera, keluarga sairin juga sudah dibuatkan kartu BPJS,”ungkap camat.

Berhubungan program nasional dilanjutkan camat, seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS)dan kartu yang berhubungan dengan warga prasejatera sudah semua.

“Kartu indonesia sejaterah sudah diajukan dan sudah dapat, juga sudah mendapatkan program keluarga harapan dan saat ini sudah menerima, artinya sekarang kita sudah berusaha untuk membangun rumahnya namun tanah tersebut bukan miliknya”tutupnya.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2018

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Lubuklinggau

Trending

Terkini

RSS ANDROID NEWBIE ID

LinggauKlik

To Top