Connect with us

Pengeringan Irigasi D.I Kelingi Tugumulyo, Ancam Petani Ikan Air Tawar Setop Budidaya

Foto salah satu wilayah pembudidaya ikan air tawar di Kelurahan Siring Agung Kecamatan Lubuklinggau Selatan II

Lubuklinggau

Pengeringan Irigasi D.I Kelingi Tugumulyo, Ancam Petani Ikan Air Tawar Setop Budidaya

LUBUKLINGGAU,LK-Pemerintah Kabupaten Musirawas dan Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera VIII, mengeluarkan surat edaran akan melakukan pengeringan saluran irigasi D.I  Kelingi Tugumulyo.

Surat Edaran dengan nomor 050/197/Bappeda/VI/2021 ditanda tangani Bupati Kabupaten Musirawas Hj. Ratna Machmud. Dalam isi surat Edaran tersebut Pemerintah memberikan Informasi perihal  rencana dan jadwal pengeringan Irigasi D.I Kelingi Tugumulyo.

Dalam surat edaran tersebut, pengeringan akan dilakukan dua tahap yang mana:

1. Pengeringan tahap pertama akan dilaksanakan pada tanggal 1 September sampai dengan 31 Desember 2021

2. Usai dikeringkan, pengairan akan kembali dilakukan pada tanggal 01 Januari 2022 sampai dengan 31 April 2022

3. Lalu pengeringan tahap kedua akan dilakukan pada 01 Mei 2022 sampai dengan 31 Oktober 2022.

Tentu karena pengeringan dilakukan dua tahap akan mengacam produksi ikan air tawar yang akan stop budidaya selama dua tahun. Apabila sudah setop budidaya, maka Petani ikan akan merugi dan bahkan ribuan orang akan hilang pekerjaan.

Seperti dikatakan Ridwan salah satu pembudidaya ikan air tawar yang berada di RT06, Kelurahan Siring Agung, Kecamatan Lubuklinggau Selatan II Kota Lubuklinggau, dia berharap kalau memang bisa dia meminta Pemerintah jangan dikeringkan. Sebabnya dijaman Corona saat ini, padi banyak rusak, petani kolam juga merugi, apalagi ditambah irigasi akan dikeringkan selesai sudah nasib petani ikan.

Tentu kalau sudah setop produksi, Dia bingung bagaimana cara membayar gaji para pekerjanya, karena perkolam saja untuk pengiriman dia memperkerjakan orang hingga 20 sampai 30 orang.

“Otomatis ini akan mematikan mata pencarian ribuan pekerja di kolam ikan air deras, belum lagi petani padi tentu itu berdampak semua,”kata Ridwan kepada wartawan saat diwawancarai, Sabtu (17/4/2021).

Dan kalau memang harus dikeringkan, dia juga tidak setuju kalau pengeringan Irigasi dilakukan secara dua tahap. Dan  setelah pengeringan tahap pertama ada pengaliran air selama empat bulan, itu  percuma dan tidak berguna bagi petani untuk pembudidaya ikan air tawar.

Sebabnya jelas dia, pembibitan ikan air deras itu butuh waktu enam bulan, tentu kalau mau aktivitas budidaya lagi dari nol, paling tidak dari mulai pelihara indukan sampai telur menetas itu butuh waktu enam bulan, setelah menjadi bibit selama enam bulan, petani masih butuh empat bulan baru sampai ke kolam air deras, jadi butuh waktu tujuh bulan sampai delapan bulan baru bisa panen.

“Kalau cuma dikasi waktu empat bulan untuk pengaliran kembali, belum bisa dapat apa-apa, ikan baru akan menetas air kering lagi,”terang dia.

Tentu sambung dia, akibat pengeringan sendiri butuh proses kurang lebih dua tahun agar bisa normal kembali, Karena ikan mulai dari netas sampai ke  bibit itu tiga bulan, dari bibit sampai ke Konsumsi itu tiga bulan berarti enam bulan.

Jadi terang dia,  dari pada banyak merugi karena waktu pengaliran hanya empat bulan, otomatis lebih baik stop membudidayakan ikan

“Kita buka tidak mau dikeringkan, cuma yang pasti, yang jelas mulai ditentukan sosialisasi itu  kapan, kami ingin meminta waktu paling tidak enam sampai tujuh bulan,”terang dia.

Oleh karena,  dia inginkan pemerintah itu adakan sosialisasi, kalau memang irigasi D.I Kelingi Tugumulyo akan dikeringkan, pembudidaya ikan disini meminta kalau bisa pengeringan itu dilakukan satu kali saja.

Misalkan dari Januari 2022 sampai Oktober pun tidak kenapa, yang penting sampai selesai sekalian. Jadi setahun saja petani ikan menganggur.

“Makanya nanti kalau ada sosialisasi  kita ngajukan dulu gima ceritanya, untuk saat ini belum ada dipanggil dari petani ikan, petani padi belum ada dipanggil,”ungkap dia.

Sementara ditambah Riton seorang pembibit ikan di Kelurahan Siring Agung, dia menginginkan kedepan apabila dikeringkan,  pengolala bibitan tentu itu akan mati total

“Harapan kami, petani ikan itu supaya pengeringan itu diminta untuk dilakukan sekali saja., jangan ada bertahap, misalkan satu tahun langsung satu tahun saja,”unkap dia kepada wartawan.

Jadi dia berharap ada solusi dari Pemerintah, jangan hanya mengering-ngeringkan saja, selain itu dia juga mempunyai pekerja.

Ditambah seperti dia yang kolamnya mengontrak, tentu masa kontraknya tetap berjalan gimana harus membayar biaya sewa, jadi pemerintah harus pikirkan bagaiman solusinya dengan petani yang ngotrak seperti dirinya.

“Tentu dengan dikeringkan air tersebut berdampak bagi kami pembudidaya ikan, karena itulah penghasilan kami,”tutupnya.

Secara keseluruhan usaha perikanan dalam 21 kecamatan di Musi Rawas saat ini tercatat merupakan yang terbesar di Provinsi Sumsel. Dengan adanya rencana pengeringan total saluran irigasi di daerah itu, banyak petani ikan air tawar akan menjerit karena merugi.

Seperti juga dikatakan oleh Asri seorang pemilik usaha ikan Air Tawar di Kelurahan Soring Agung, dia secara tegas menyatakan ketidak setujuannya akan dikeringkannya aliran irigasi D.I Kelingi Tugumulyo, bahkan kalau akan melakukan aksi, dia siap ikut aksi unjuk rasa menolak pengeringan irigasi.

“Kalaupun  dikeringkan hanya untuk merehab, tidak dikeringkan pun bisa direhab, jangan seperti sebelumnya dikeringkan tapi hasilnya minim kan percuma”kata Asri.

Dikatakan dia, pastinya karena kering, dia tidak bisa menbudidayakan ikan, karena sumber air itu berasal dari aliran irigasi D.I Kelingi Tugumulyo.

“Pemerintah jangan asal kering saja, Pemerintah solusinya apa,”tegas dia.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2021

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Lubuklinggau

Trending

Terkini

RSS ANDROID NEWBIE ID

LinggauKlik

To Top