Connect with us

Lapangan Merdeka Saksi Lubuklinggau Kota Perjuangan Kini Tinggal Kenangan

Foto lapangan merdeka tempo dulu dan kini sudah berubah menjadi tanan kurma/foto Internet

Lubuklinggau

Lapangan Merdeka Saksi Lubuklinggau Kota Perjuangan Kini Tinggal Kenangan

LUBUKLINGGAU,LK-Kota Lubuklinggau menyimpan sejumlah sejarah penting yang berkaitan dengan perjuangan merebut kemerdekaan.

Beberapa sejarah penting yang ada di Lubuklinggau, mulai dari museum Subkoss, tugu Kolonel Atmo dan salah satunya  ada Lapangan merdeka yang kini suduh menjadi Taman Kurma.

Alun-alun lapangan merdeka, yang sebagian orang luar Kota mengenalnya, dan biasa disebut dengan monas mini, karena kalau itu ada tiang bendera yang menyurapai Monas di Jakarta.

Lapangan Merdeka (lapmer) adalah sebuah alun-alun kota Lubuklinggau yang menjadi andalan dari ciri khas Bumi sebiduk semare itu,sebagai tempat serba guna bagi semua kalangan dikota tersebut. Dihari-hari besar peringatan kemerdekaan dan hari-hari istimewa lainnya lapmer adalah aset andalan untuk menyelenggarakan semua kegiatan yang dimaksud.

Tidak hanya itu  lapangan yang terletak ditenga-tenga pusat kota itu juga diketahui sebagai salah satu bagian sejarah dari lahirnya kabupetan Musirawas

“Dulu lapangan merdeka namanya City Square kenapa diberi nama City Square karena disitu dulu rumah jabatan kontelir, dan kenapa menjadi lapangan merdeka karena pada tanggal 30 Desember 1949 pengakuan kedaukatan dan penyerahan Musi Ulu dari Negara Belanda ke Republik Indonesia,”kata seorang sejarawan Kota Lubuklinggau H. Swandi Sam kepada Linggauklik, Kamis (13/8/2020).

Jadi sejak tanggal 30 Desember 1949 City Square dirubah menjadi lapangan Merdeka, secara sejarah City Square itu sudah berdiri 1933 dan berubah menjadi lapangan merdeka.

Dijelaskan Swandi Sam, Pada tahun 1949 sampai dengan sekarang, usianya sudah mencapai 71 tahun dan semua yang sudah berusia 50 tahun keatas harus menjadi cagar budaya. Namun dirinya menyayangkan lapangan merdeka dihilangkan.

“Sayakan cuma sejarawan dan saya bukan pejabat yang berwenang boleh atau tidak, ketika saya mengatakan tidak boleh tetapi pemerintah mengatakan boleh mau diapakan,”terangnya.

Lapangan itu dulunya City Square dimana itu manjadi lapangan rumah para kontelir, kontelir itu artinya kepala Pemerintahan Belanda, Onder Afdelling ( Dibawah  Departemen) Musi Ulu di Lubuklinggau pada tahun 1933.

Dan pada tahun 1942 Jepang mulai datang, jadi kontelir menunggu City Square selama 9 tahun. Jadi Belanda berkuasa di Lubuklinggau cuma 9 tahun. Kemudian pada tahun 1943 Jepang mengubah Musi Ulu dengan Rawas menjadi Bungsu Musi Kami, 1 Rawas artinya Kabupaten Musi Ulu Rawas.

Diteruskan Swandi pada tanggal 20 April 1943, Kabupaten Musi Ulu Rawas yang menjadi Kabupaten Musi Rawas. Dan Musirawas sudah terpecah menjadi Kabupaten Muratara. Kabupaten Musirawas setiap tanggal 20 menjadi hari jadi Kabupaten Musirawas.

Sebab pada tanggal 20 April 1943 Musi Ulu dengan Rawas disatukan jadilah Kabupaten Musirawas. Musi Ulu itu bahasa Jepangnya Musi Kami, jadi Onder Afdelling Musi Ulu dan
Onder Afdelling Rawas.

Dikatakan Swandi, pada tahun 1943 Jepang mulai mengangkat anak-anak muda untuk sekolah Gyugun atau sekolah Militer.dan yang tidak memiliki Pendidikan di menjadi Heiho. Heiho merupakan pekerjaan untuk membatu pekerjaan Kasar Militer untuk membangu Kubu dan parit pertahanan.

Sehingga yang memiliki pendidikan waktu itu  ada yang menjadi Guru. Dan yang sekolahnya Tamat SMP dan SMA boleh pergi ke Pagar Alam untuk masuk sekolah Gyugun. Nah itulah yang menjadi cikal bakal pemimpin TNI di Indonesia.

“Sewaktu perang kemerdekaan, yakni perang lima hari lima malam orang yang jebolan dari Gyugun itulah menjadi Panglima dan pemimpin. Seperti M. Subolon dulunya sekolahnya di Pagar Alam, AK. Gani juga disana,”ungkapnya.

Jadi yang menjadi Kepala Subkoss sekolahnnya disana, mereka menjadi ahli perang dan ahli Politik bernegara, karena Jepang pada saat itu mengajari sampai bisa.itulah setelah Belanda akan merebut kembali, prakasa yang sekolah disana mendirikan Subkoss.

Lalu, Di Lampung dijadikan Sub Teritorial, Bengkulu dijadikan Sub Teritorial, Jambi dijadikan sub Teritorial, Palembang jadi sub Teritorial dan Subkoss sendiri yang terakhir fi Lubuklinggau yang komandoi oleh Kolonel M. Sumbolon.

Pada tanggal 29 Desember tahun 1948, Presiden Sukarno Hatta dan seluruh Menterinya ditangkap. Dan Belanda yang akan mengusai Sumatera Selatan dan itu baru terarah ke wilayah Palembang sampai Lubuklinggau diserang. Sejak itu Belanda juga menyerang Lampung, Bengkulu dan Jambi.

“Jangan kan Sumatera Selatan waktu itu, Palembang, Lampung, Bengkulu dan Jambi artinya Belanda baru mengusai bagiannyo yakni Palembang. Dan pada Tanggal 6 Januari tahun 1947 sampai dengan 21 Juli 1947 Belanda tidak bisa sepenuhnya mengusai Palembang,”jelasnya.

“Lalu Belanda kemudian mengebom Prabumulih akhirnya Kota Prabumulih dan tanggal 27 Juli 1947 berhasil.di kuasai Belanda. Saat itu Subkoss sedang berada di Lahat. Karena jarak Prabumulih dan Lahat dekat, sehingga Subkoss dipindahkan ke Lubuklinggau biar lebih jauh,”kata Seorang sejarawan yang kini sudah berusian 71 tahun dan merupakan seorang Dosen sejarah Lokal.di Universitas swasta di Lubuklinggau.

“Militer indonesia bukan takut, tetapi harus menjaga, jadi jika Belanda menyerang kita tak kuat kita sembunyi, begitu lengah kita serang kan begitu dan taktik itu yang membuat Belanda mengakui kedaulatan kita,”ujarnya.

Jadi ketika itu pada Bulan Juni 1947 sampai dengan Desember 1948 Subkoss bermarkas di Lubuklinggau, lalu pada tanggal 29 Desember mereka meninggalkan Lubuklinggau untuk ke Curup, Muara Aman lalu ke Rejang Lebong. Dan itu namanya oerang Kemerdekaan II.  Dan perang kemerdekaan I sudah berakhir.

Lalu pada saat perang kemerdekaan ke-2 Sumatera Selatan akan diserang semua mulai dari Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Lampung. Namun mereka hanya bisa menyerang dari Palembang ke Lahat saja mereka stop menyerang. Karena semua jalan dan Jembatan waktu itu diputus oleh militer dan warga Indonesia.

Dan karena diputus Belanda menggunakan kapal terbang, jadi saat Belanda menyerang menggunakan kapal terbang, militer Indonesia bersembunyi. Sehingga saat Belanda menembak dari udara hanya sia-sia saja.

“Akhirnya Belanda mengamuk dan memotong pohon-pohon guna membuat jalan yang diputus agar mereka bisa lewat, akibat membangun membuat Belanda lama tiba di Linggau,”

Sehingga mereka tiba di Linggau pada tanggal 5 Januari 1949, butuh waktu berbulan-bulan untuk mengusai Lubuklinggau.

Dan pada 3 Agustus 1949 Pemerintahan mulai melakukan perundingan untuk Indonesia akhirnya terjadilah perundingan Renvile, Perundingan Lingkar Jati dan perundingan Roem Royen dan saat perundingan Roem Royen belanda sudah tidak lagi.

Belanda menyerang terus membuat amunisinya habis dan peralatan yang dibawa hancur dan tentu hal tersebut membuat hutang Belanda meningkat, Negara yang memberi hutang mendesak Belanda lalu terjadilah perbuatan terkutuk.

Belanda mulai putus asa, dan membuat skenario dengan orang yang tidak berdaya ditangkap oleh Belanda, termasuk menangkap Presiden dan seluruh menterinya. Setelah ditangkap Belanda menyiarakn ke Dunia, seolah -olah Negara Indonesia sudah bertekuk Lutut dan semua tentaranya Indonesia karena takut berlari kehutan.

“Namun di Jogjakarta kala itu dapat direbut kembali selama enam Jam, dan membuat Indonesia menyiarkan ke Dunia mengatakan hai Belandan merupakan Penipu,  kata kamu Tentara  Indonseia bertekuk lutut, buktinya Jogja berhasil direbut dalam waktu enam jam dan kamu berhasi diusir,”jelasnya.

Selain itu, Belanda juga mengatakan bahwa Subkoss di Lubuklinggau telah hancur, padahal Subkoss pindah ke Muara aman, dan masih berkomunikasi, Belanda tak bisa menangkapnya.

Waktu terus berjalan, dan Ketika Indonesia sudah merdeka, Bupati sudah menunggu rumah di Subkoss. Dan Bupati yang ke-15  Musirawas dijabat Syueb Tamat dan pada tahun 1987  Gubernur Sumsel Sainan Sagiman berbicara dengan Bupati Syueb Tamat.

“Pak Bupati Lubuklinggau ni Kota Perjuangan,”kata Swandi menirukan Gubernur Sumel Sainan Sagiman

“Kenapo,”jawab Syueb Tamat ya g ditirukan Swandi.

“Subkossnya disini bermakas,”kata Swandi menirukan Gubernur Sainan Sagiman.

Bahwasannya di Lubuklinggau terjadi perebutan untuk pengakuan kedaulata  Republik Indonesia  dari Belanda, itu disini di Lubuklinggau perjuangannya.

Dan sebab itulah dibangun Monumen yang saat ini berada di depan Subkoss yang bergambar burung garuda gagas perkasa yang akan terbang menerkam.

Dan pada tahun 15 Januari tahun 1988 sewaktu jaman itu Kolonel Sumbolon masih Hidup, Hasan Said masih hidup dan semua pejuang Subkoss itu masih hidup, semua diajak untuk reuni seluruh pejuang Subkoss. Dan diresmikanlah gedung itu menjadi Museum Subkoss.

“Kota Lubuklinggau ini merupakan kota Perjuangan yang sangat luar biasa untuk Republik Indonesia, jadi Lubuklinggai ini kota perjuangan dan lapangan merdeka saksi sejarah perjuangan Indonesia,”kata

Sebab Pada tahun 30 Desember 1949 penyerahan Musi Ulu dari belanda kekepada Republik Indonesia itu diserahkan di lapangan merdeka dan dirinya menyimpan dokumen foto saat penyerahan di lapangan itu.

Menurut Swandi alun-alun Lapangan merdeka yang kini beralih fungsi menjadi Taman Kurma merupakan sebuah pengelabuan sejarah dan cagar budaya.

“Kalau di Padang Cagar budaya tidak ada yang bisa diganggu, jadi ketika saya mati siapa yang tahu dengan lapangan merdeka dan kini tinggal kenangan”keluhnya.(rdw)

Baca juga: Saat Merdeka Indonesia Tak Punya Tentara, dan Ini Awal Berdirinya Museum Subkoss di Linggau

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2020

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Lubuklinggau

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top