Connect with us

Kisah Tukang Becak di Lubuklinggau Yang Tergerus Zaman, Ternyata Berjaya Dimasa Krisis Moneter

Foto Kakek Ahmad saat berada didekat becak di Depan Mapolres Lubuklinggau

Lubuklinggau

Kisah Tukang Becak di Lubuklinggau Yang Tergerus Zaman, Ternyata Berjaya Dimasa Krisis Moneter

LUBUKLINGGAU,LK-Di usianya yang tak lagi muda, seorang tukang becak di Kota  Lubuklinggau harus mengais rejeki sendiri, demi menjadi tulang punggung Keluarga.

Kendati demikian, ia tak pernah patah semangat. Menjalani hidup dengan ikhlas adalah kunci baginya saat ini.

Pria berusia 77 tahun ini bernama Ahmad Salam, Kakek Ahmad tinggal dirumah kontrakan di Kelurahan Marga Mulya, Kecamatan Lubuklinggau Selatan, Kota Lubuklinggau.

Kakek Ahmad sudah mengais becaknya sudah sejak 1971, beliau merupakan senior dalam dunia perbecakan. Pahit dan manis sudah pasti pernah dilalui beliau selama mengais rejeki.

Di Era modern saat ini, becak kian lama kian jarang ditemui, meskipun becak semakin kalah dengan perkembangan jaman, becak kian tersingkir oleh transportasi bertenaga mesin, namun Kakek Ahmad tetap mempertahankan alat transportasi roda tiga yang ramah lingkungan.

Dia menjadikan Becak merupakan alat tranfortasi manual,  Kendaraan roda tiga yang di kayuh layaknya sebuah sepeda ini sebagai alat untuk mencukupi kebutuhan Keluarganya.

Saat ditemui, Kakek Ahmad sedang duduk santai diatas becaknya sambil menunggu penumpang, Kakek Ahmad sering mangkalkan becaknya di depan Mapolres Lubuklinggau.

“Saya berangkat dari Rumah pagi-pagi, jam enam pagi saya sudah berangkat, sebabnya, becak saya titipkan di Polres Lubuklinggai, sehingga harus pagi agar tidak mengganggu Polisi yang sedang apel pagi,”kata Kakek Ahmad saat dibincangi Linggauklik.com, Sabtu (21/8/2021).

Dia menyebut, kalau becaknya memang setiap hari selalu dititipkan di Mapolres Lubuklinggau, karena sudah senior, banyak anggota Kepolisian yang mengenali kakek Ahmad, sehingga tak bisa dipungkiri becaknya selalu dititipkan disana.

Kakek Ahmad menceritakan, saat ini jumlah becak di Kota Lubuklinggau sudah tidak banyak lagi. Sebelum di era modern, jumlah becak di Kota Lubuklinggau bisa mencapai 3.000 lebih, namun sekarang jumlahnya sudah berkurang.

“Kalau dihitung-hitung jumlah becak di Kota Lubuklinggau yang masih aktif sudah tidak sampai 100 lagi,”ujar dia.

Itu disebabkan karena sepinya penumpang, saat ini terang dia, penumpang lebih memilih menaiki ojek yang lebih cepat dan ongkos antarnya lebih murah. Sehingga banyak penumpang yang beralih.

Namun meskipun kalah dengan kendaraan bermesin, dia tak perna patah semangat. Terkadang dia harus menahan rasa sakit hati karena perkataan penumpang karena ongkos antar becak tarifnya lebih mahal dari ongkos ojek.

“Misal ada penumpang mau minta diantar dari Polres ke pasar satelit, terus saya tawarkan tarif ongkos sebesar Rp50 ribu, eh penumpangnya kaget, terus penumpang bilang mendingan naik Ojek ongkosnya cuma Rp5 ribu,”ungkapnya dengan nada kecewa.

Mendengar penumpang berkata seperti itu, tentu membuat hati Kakek Ahmad terasa teriris-iris, hatinya terasa sakit dan diapun bahkan meneteskan air mata. Mestinya calon penumpang ya kalau tidak mau kan bilang saja tidak, gak perlu membanding-bandingkan seperti itu.

Menurut Kakek Ahmad, penumpang tidak tahu apa, perjalanan dari Polres Lubuklinggau menuju ke pasar satelit itu cukup jauh kalau menggunakan becak, mana ditambah lagi jalannya menanjak naik turun.

Kakek Ahmad menyebut, jika masa kejayaan para tukang becak itu, itu dimasa krisis moneter pada zaman Presiden Republik Indonesia bapak Suharto. Pada jaman itu perkembangan zaman belum semodern saat ini. Sehingga meskipun saat itu krisis moneter, penumpangnya banyak.

Dan beda dengan saat ini, belum lagi ditambah dengan Pandemi virus corona, terkadang pernah seharian dia tidak dapat penumpang satupun. Sehingga untuk pulang kerumah di Marga Mulya pun dia tak memiliki ongkos.

“Terpaksa saya jalan kaki dari Polres ke rumah di Marga Mulya, karena becak saya titipkan di Mapolres Lubuklinggau,”ujar dia.

Namun dia tak mau berpangku tangan, dia tak.ingin merepotkan orang lain, sehingga dia lebih memilih berjalan kaki kerumahnya, padahal dia banyak mengenal pak Polisi dan tukang ojek. Bisa saja Kakek Ahmad meminta antar kepada temannya yang ngojek.

Kakek Ahmad, menambahkan, alhamdulillah becaknya itu miliknya sendiri, dia membeli becak bekas pada tahun 2006 dengan harga Rp.500 ribu. Uang membeli becak didapat dari Bantuan Langsung Tunai (BLT) pada masa itu.

Hingga kini, becak yang dia beli itu selalu dia rawat dan hingga kini kondisinya masih mulus dan bagus. Kakek Ahmad sangat mencintai becaknya, karene becak tersebutlah yang membantu dia dalam mencukupi kebutuhan keluarga.

“Dengan mengayuh becak ini, alhadulillah saya bisa menghidupi keluarga saya,”tandasnya.

Selain itu, kakek Ahmad sudah memiliki pelanggan tetap, apabila dibutuhkan dia selalu dipanggil untuk mengatarkan dan menjemput barang yang dibutuhkan.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2021

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Lubuklinggau

Trending

Terkini

RSS ANDROID NEWBIE ID

LinggauKlik

To Top