Connect with us

Kampung Warna -warni Lubuklinggau Memudar, Pengunjung Sepi

Foto kampung warna-warni nampak memudar

Lubuklinggau

Kampung Warna -warni Lubuklinggau Memudar, Pengunjung Sepi

LUBUKLINGGAU,LK-Kampung warna-warni dulunya adalah Kampung yang terkenal sebagai kampung kumuh, dan kini bertransformasi menjadi Wisata baru di Kota Lubuklinggau, kerena keindahannya banyak wisatawan datang.

Namun, kini suasana sepi masih terlihat di kampung warna-warni, Kelurahan Linggau Ulu dan Kelurahan Ulak Surung, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Lorong payung, di Gang Ogan I dan Gang Ogan II yang dulu menyajikan lukisan tiga dimensi (3D), dengan aneka gambar seperti karakter Spiderman, Hiu, Dinosaurus tak terlihat lagi.

Keindahan dan kebersihan warga setempat juga hanya bertahan sesaat, seiring memudarnya cat-cat yang menempel di dinding-dinding rumah-rumah warga.

Kini kondisi kampung warna-warni kembali kumuh dan tak lagi ramai dikunjungi wisatawan, puluhan pedagang yang dulu banyak berjualan pun sekarang sudah tak terlihat lagi.

Yuli warga setempat mengaku
pengunjung sepi dirasakan warga
sudah terjadi sejak dua tahun lalu, bahkan saat ini nyaris tidak adalagi wisatawan yang datang berkunjung.

“Ramaiya cuma setahun, abis itu berangsur-angsur terus turun, sekarang hari-hari libur Sabtu dan Minggu pun tidak ada lagi pengunjung datang,” ungkap Yuli pada wartawan, beberapa waktu lalu.

Yuli mengaku, pengunjung tidak tertarik lagi datang ke kampung warna -warni karena tidak adanya inovasi baru ditambah spot-spot foto seperti dulu sudah memudar.

“Sekarang kan tidak ada tempat-tempat foto lagi, lihat saja rumah-rumah warga itu catnya banyak yang sudah pudar, mungkin itulah yang membuat pengunjung males datang, apalagi bagi yang sudah pernah datang,” ujarnya.

Ia menuturkan, dulu walau pun pengunjung luar sudah jarang datang, mereka senang karena
banyak pengunjung lokal khususnya Sabtu dan Minggu singgah untuk menikmati keindahan Sungai Kelingi.

“Biasanya mereka sepulang dari berolahraga seperti bersepeda
singgah disini, tapi semenjak Covid-19 ini sudah tidak lagi, jadi tambah sepi,” ungkapnya.

Sementara Mela seorang pedagang mengaku, warga banyak berhenti berjualan semenjak kampung warna-warni sepi pengunjung dua tahun lalu.

“Dulu hampir setiap rumah disini berjualan, berbagai macam makanan dijual disini, kemudian karena sepi pengunjung akhirnya berhenti satu persatu seperti sekarang ini,” ungkapnya.

Ia bercerita, saat ramai pengunjung warga setempat sangat terbantu dengan menjadi pedagang dadakan, bahkan satu pedagang bisa mengantongi uang Rp 50 perhari.

“Apalagi Sabtu dan Minggu saat ramai kunjungan, bisa lebih, kadang bisa dapat Rp 60 -70 ribu sehari, tapi semenjak sepi yang bertahan jualan hanya orang-orang lama, yang lain kembali kepekerjaanya masing-masing,” ujarnya.

Ia pun berharap kepada pemerintah Kota Lubuklinggau kembali melakukan pengecatan ulang, sehingga pengunjung yang dulu pernah datang kembali tertarik untuk kembali berkunjung.

“Kalau pengunjung ramai lagi kan, perekonomian warga daerah sini makin membaik. Banyak pengunjung pasti banyak pembeli,” ungkapnya.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2020

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Lubuklinggau

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top