Connect with us

Inclinator Icon Kota Lubuklinggau Tak Berfungsi, Komisi II Beri Kritikan Pemkot Linggau

Foto nampak inclinator di taman wisata bukit Sulap Kota Lubuklinggau nampak terlihat tak berfungsi, dan dewan berikan kritikan

Lubuklinggau

Inclinator Icon Kota Lubuklinggau Tak Berfungsi, Komisi II Beri Kritikan Pemkot Linggau

LUBUKLINGGAU,LK-Warga Lubuklinggau siapa yang tidak kenal dengan menarang miring atau yang dikenal dengan nama Inclinator, dan merupakan Ikon Kota Lubuklinggau dan berada di Taman Wisata Bukit Sulap Kota Lubuklinggau.

Tentu banyak Masyarakat yang penasaran ingin mencoba menaiki menara miring tersebut, tapi apa saat wisatawan  baik lokal dan luar Kota Lubuklinggau ingin mencoba menaikinya, Inclinator tak pernah dioperasikan.

Tentu hal tersebut menjadi tanda tanya wisatawan, apa yang menyebabkan inclinator tak perna dioperasikan. Untuk menjawab itu, Komisi II DPRD Kota Lubuklinggau menggelar inspeksi mendadak (Sidak) ke Taman Wisata Bukit Sulap.

Saat sidak komisi II DPRD pertama berang dengan kondisi Kantor Dinas Pariwisata Yang Kosong Melompong tanpa ada satu orang pun, dan yang kedua Dewan menemukan kondisi Inclinator tampak seperti tak terurus atau terbangkalai.

Sidak sendiri dihadiri ketua Komisi II Abdul Nasir, S.E dari Fraksi Gerindra bersama empat anggotanya, Yakni Wansari dari fraksi PDIP,  M. Seh Yamin Effendi dari fraksi Demokrat, Bambang Rubianto dari Fraksi PKS dan Herianto dari Fraksi PBB.

Ketua Komisi II Kota Lubuklinggau Abdul Nasir dari fraksi partai Gerindra mengatakan Komisi II sangat kecewa, melihat aset yang menjadi Ikon Kota Lubuklinggau dan yang dikelolah Dinas  Pariwisata.

“Kondisinya banyak yang terbangkai,”kata Abdul Nasir kepada wartawan saat sidak di Taman Bukit Sulap Kota Lubuklinggau, Senin (8/3/2021).

Dirinya dari komisi II, meminta agar kiranya Pemeritah Kota Lubuklinggau untuk mengelola dengan baik aset daerah ini , jadi ini sangat berfungsi supaya mendatkan dan meningkatkan APBD untuk Kota Lubuklinggau.

Sedangkan ditambah Anggota Komisi II Wansari dari fraksi PDIP, Wansari mengatakan dirinya dari Komisi II ingin melihat pariwisata seperti yang  diliihat saat ini mengenai inclinator.

Wansari menjelaskan, Inclinator merupakan salah satu wahana yang diandalkan dan menjadi Ikon dari pemerintah Kota Lubuklinggau, untuk mendatangkan wisatawan  baik lokal maupun untuk luar Negeri untuk datang ke Lubuklinggau.

Dimana terang ia, inclinator berfungsi akan meningkatakan pertumbuhan Ekonomi Kota Lubuklinggau, itu yang diinginkan oleh Pemerintah Kota Lubiklinggau.

“Tetapi kalau kita lihat saat ini, apa yang di wacanakan dan apa yang diinginkan  pemerintah Kota Lubuklinggau Khusunya Pak Walikota, belum dapat diterjemahkan oleh OPD maupun pihak terkait,”terang ia kepada wartawan.

Menurutnya, bagaimana OPD dan pihak terkait untuk melaksanakan ide-idenya dari Seorang Walikota Lubuklinggau.

Nah sambung ia, kalau dirinya melihat Inclinator saat ini dari segi pengelolaan dan segi fungsi, dan manfaat juga jauh, ini terkesan penghamburan anggaran, padahal diketahui anggaran di Kota Lubuklinggau ini cukup kecil.

Tetapi, Walikota membangun Inclinator ini dengan dana puluhan Milyar, tapi apa manfaat untuk saat ini sangat kecil, jadi terkesan pemborosan Anggaran.

“Nah kami dari komisi II, yang lebih fokus di pariwisata, sebenarnya ingin menegaskan tapi, apa saat ke kantor Dinas Pariswisata Kondisinya kosong melompong,”ungkap ia.

Saat komisi dua ingin mendapatkan informasi, kondisi kantor kosong, padahal pintu terbuka dan ini juga menjadi pertanyaan apakah kosongnya kantor terjadi setiap hati atau hanya saat ini saja.

Wansari menegur, kalau ini juga menjadi catatan Pemerintah Kota Lubuklinggau.
Bagaimana bisa meningkatkan kunjungan pariwisata, kalau tata kelola pegawai yang kurang disiplin seperti ini.

Selain itu sambung ia, mengenai Inclinator, yanh kabarnya dikelolah oleh PT. Linggau Bisa,

“Kalau mlihat perawatan, Inclinator bisa dikatakan Kumuh,  jadi PT. Linggau Bisa ini bisa dikatakan gagal untuk ini,”tutupnya.

Seperti aksip yang perna diterbitkan Linggauklik, Inclinator adalah sebuah sarana transportasi yang biasa digunakan di area yang memiliki kemiringan cukup ekstrim, yakni sekitar 45 derajat. Inclinator yang ada di Kota Sebiduk Semare ini merupakan kereta miring terpanjang di Indonesia.

Penyediaan sarana ini dikatakan sebagai pembeda dari bukit-bukit lain yang ada di Indonesia. Meski kononnya, fasilitas yang menelan anggaran Rp13 Milyar lebih ini ditargetkan menjadi salah satu fasilitas termewah dalam ajang Asian Games 2018 cabang olahraga Sepeda Gunung.

Berbagai event baik taraf nasional hingga internasional diselenggarakan sebagai warming dan Pematangan arena serta untuk mendapatkan simpati Olympic Council of Asia (Dewan Olimpiade Asia) dan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) agar Kota Lubuklinggau menjadi tuan rumah tempat penyelenggaran sepeda gunung (mountain bike) pada Asian Games 2018.

Sebut saja, seperti event International MTB Downhill Championship 2010, Mountain Bike Open Championship 2012 yang memperlombakan dua nomor sekaligus yaitu MTB Downhill dan MTB Cross Country.

Sukses penyelenggaraan Kejuaraan MTB tahun 2010 dan 2012, maka pada tahun 2013 Pemkot Lubuklinggau membuat terobosan membangun shelter dan inclinator sebagai fasilitas para atlet membawa sepeda gunungnya ke titik start track di puncak Bukit Sulap. Dana awal yang dianggarkan ketika itu sebesar Rp725 juta dan dilakukan lelang pada bulan oktober 2013.

Pada anggaran tahun 2014, pemkot makin serius dalam pembangunan inclinator ini dengan menyiapkan dana sebesar Rp13 Milyar. Pembangunan ini juga sejalan dengan program Visit Lubuklinggau 2015.

Sementara inclinator dibangun, Kota Lubuklinggau kembali dipercaya sebagai penyelenggara event Asian Mountain Bike Championship (AMBC) 2014 ke-20 yang diikuti 14 negara di Asia serta junior AMBC ke-6.

Event-event olahraga sepeda gunung yang sukses diselenggarakan ini membuat SN Prana Putra Sohe Walikota Lubuklinggau mengundang Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrowi dan Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga Faisal Abdullah untuk meninjau inclinator dan lokasi track downhill dan Arena Cross Country sekaligus peletakan batu pertama Rumah Pemuda di kawasan Kelurahan Petanang Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Minggu (22/2/2015).

Kunjungan kerja yang dihadiri Gubernur Alex Noerdin ketika itu, Menpora memberikan apresiasi yang tinggi kepada Lubuklinggau yang telah membangun track downhill dan Rumah Pemuda. Ia juga mengaku bangga melihat kota Lubuklinggau yang memiliki kepedulian dan perhatian besar terhadap olahraga dan pemuda.

Kedatangan Menpora, Deputi III Bidang Pembudayaan Olahraga serta Gubernur Alex Noerdin itu membuat Pemkot semakin yakin bahwa Arena sepeda gunung di kawasan Bukit Sulap Kota Lubuklinggau ini akan dijadikan sebagai salah satu venue pada Asian Games 2018.

Entah dari mana dan siapa sumbernya, sejumlah media kemudian mengekpose, mengadang-gadangkan track sepeda gunung di Bukit sulap akan dijadikan sebagai venue cabor sepeda BMX Asian Games 2018. Berita yang belum jelas kepastiannya ini disambut gembira oleh masyarakat Lubuklinggau, terkhusus Walikota SN Prana Putra Sohe. Bagaimana tidak, pembangunan track arena MTB di Bukit Sulap beserta fasilitas inclinator yang menjadi andalan itu tidak sia-sia. Tujuan bakal tercapai.

Empat bulan kemudian, impian itu sirna. Olympic Council of Asia dan Kemenpora mengeluarkan rilis bahwa venue cabor sepeda BMX Asian Games 2018 diberikan kepada Provinsi Jawa Barat.

Nanan sapaan akrabnya Walikota Lubuklinggau, kepada sejumlah media menyayangkan sikap Kemenpora yang tidak memantau langsung lokasi trek yang telah disiapkan. Bahkan penyelenggaraan kejuaran sepeda gunung berkelas internasional beberapa waktu lalu, pun tidak terpantau secara langsung.

“Apapun tentang rilis itu belum tentu positif, kan Asian Games masih lama, apapun bisa terjadi. Tugas kita untuk terus mensosialisasikan trek yang kita miliki, terlebih trek yang berada di bukit sulap memiliki inclinator (kereta gantung) untuk para atlet,” kata Nanan, Rabu (24/6/2015).

Kendati Kemenpora telah menentukan venue MTB di Jabar, dirinya masih optimis penunjukan akan kembali diberikan kepada Lubuklinggau. Hal itu akan dibuktikan Pemkot dengan event sepeda gunung se- Asia Pasifik yang dilaksanakan pada November 2015. Event Asia Pacific Downhill Challenge (APDHC) 2015 pun digelar dengan sukses. Namun tanda-tanda penunjukkan venue Asian Games 2018 belum juga muncul.

Tahun 2016 Pemkot tidak mengadakan perhelatan kejuaraan Sepeda Gunung lagi. Pemkot memfokuskan diri mempercantik dan melengkapi arena Bukit Sulap. Inclinator dan fasilitas lainnya rampung dikerjakan. Sejumlah tokoh penting, tamu-tamu luar daerah dijamu dengan suguhan menikmati sensasi naik kereta miring itu.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2021

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Lubuklinggau

Trending

Terkini

RSS ANDROID NEWBIE ID

LinggauKlik

To Top