Connect with us

Ikon Kota Lubuklinggau Hanya Tinggal Nama

Foto aktivis GSUU Herman Sawiran

Lubuklinggau

Ikon Kota Lubuklinggau Hanya Tinggal Nama

LUBUKLINGGAU,LK-Indonesia telah merdeka sejak 17 Agustus 1945, yang berarti tahun 2020 ini Indonesia sudah 75 tahun merdeka. Perjalanan kemerdekaan Indonesia sangat menarik untuk diikuti. Ada banyak tempat wisata sejarah di Lubuklinggau yang menceritakan perjuangan bangsa Indonesia.

Salah satu tempat sejarah penting tersebut adalah lapangan merdeka. Tatapi kini lapangan merdeka hanya tinggal nama bagi sebagian Masyarakat yang mengetahuinya.

Alun-alun lapangan merdeka, pada waktu itu merupakan tempat yang tersohor. Orang belum bisa dikatakan Jalan-jalan ke Lubukkinggau kalau belum ke lapangan merdeka. Tentu hal tersebut.membuat banyak kalangan rindu akan lapangan merdeka.

“Jadi saya lahir di Lubuklinggau pada tahun 1966 jadi sewaktu saya berusia 7 sampai 8 tahun  sering diajak orang tua ke lapangan merdeka untuk menonton bola, ado pertujukan, ada Helicopter turun, ke Lapangan merdeka ado acara HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus,”kata ketua Gerakan Suara-Suara Manusia Peduli Amanah Undang-undang (GSUU) Herman Sawiran kepada Linggauklik.com, Kamis (13/8/2020).

Menurut aktivis jembolan tahun 98 ini, secara sejarah, memang yang namanya Sejarah, itu mesti dicatat bahwasanya tidak boleh dihilangkan atau dihapuskan, contoh-contoh sejarah itu seperti lokasi, pahlawan, nama pahlawan dan juga termasuk monumen- monumen.

Nah sekarang untuk di Kota Lubuklinggau lapangan merdeka saat itu sangat tersohor, pada waktu sebelum adanya stadion lapangan sepak bola yang megah, di lapangan merdeka kala itu hanya ada garis putih saja dipinggir-pingirinya.

“Saat itu disana banyak orang yang main bola termasuk Walikota Linggau,”ujar Herman.

Dan lama kelamaan dunia semakin maju, tanpa disadari lapangan merdeka itu pupus, hilang tanpa kesan, guna untuk memperlebar pembangunan masjid Agung. Padahal Masjid Agung itu kan sudah masuk sekalah besar. Masjid agung dulunya kalau tidak salah itu merupakan kantor Eks DPRD sewaktu dirinya masih kecil.

Nah yang menjadi persoalan sekarang, kenapa lokasi itu, subuah cagar budaya yang tergabung dengan Museum Subkoss Garuda, akhirnya dihilangkan dan orang banyak mempertanyakan itu.

Ia beranggap, Boleh membangun masjid, tetapi jangan menghilangkan jejak sejarah, boleh nak bangun masjid bertingkat-tingkat, tapi apa tak ada tempat lain. Kini lapangan merdeka hanya tingga nama saja.

“Misalkan seorang Herman Sawiran menjadi Wali Kota Lubuklinggau dengan menyebut nama Allah akan saya bongkar dengan mohon ampun kepada Allah dan tidak mengurangi rasa hormat akan saya bongkar dan dikembalikan seperti biasa,”ujarnya.

Karena menurutnya, apa yang sekarang sudah dibangun,  itu tidak ada fungsinya, hanya menjadi tempat parkiran Mobil, air mancur dan bukan untuk umat muslim melaksanakan Ibadah.

Menurtnya yang dibangun tersebut, tidak ada fungsi, apalagi saat ini ditanami pohon kurma, tetapu buahnya tidak adam Sepengetahuan dirinya taman sekrang dibangu hanya untuk tempat foto-foto Selvi dan duduk-duduk.

“Misal kita ambil contoh  masjid Istiqlal tidak selebar itu, jadi maksudnya dalam persoalan ini kepalang besar-besar nian untuk jamaahnya, dan ini bukan berarti mau mempertangkan dengan yang lain,”ujarnya.

Diakuinya Memang sekarang mungkin bermanfaat bagi orang-orang yang berjualan disana, tetapi sekarang untuk memperingati hari kemerdekaan dimana tempatnya. Jadi sekarang yang dipertanyakan. Ini bukan untuk mengungkit-ungkit dan ini hanya ingin melihat sejarah dalam artian kata jangan lupakan sejarah. Sebab ini untuk anak cucu.

“Tetapi itu kalau dibungkar memang anggaranya tentu Milyaran, saya selaku putra Daerah acung jempol, memang cukup megah masjid tersebut. Tetapi untuk megah jangan menghilangkan cagar budaya,”ucapnya.

Coba misalkan lapangan merdeka itu tidak dijadikan lapangan parkir dan tempat senam-senam kan idak mengganggu Ibadah. Yang menjadi persoalan itu yakni makna itu untuk memperluas.

Sebenarnya seorang Walikota sebaiknya melakukan kompromi atau diskusi dulu dengan hukum adat atau dengan tokoh masyarakat bagaimana. Tentu ini menjadi pertanyakan apakah  seorang Walikota sudah melalui yang namannya Sidang paripurna atau mendengarkan  pendapat dengan seluruh masyarakat Dan itu yang penting.

“Nah kalau ada alasan lapangan merdeka tempat orang kongko-kongko la itukan kita ada Pol PP, untuk apa ada Kepolisian. Dan seperti contoh di Jakarta ada petugas keamanan yang keliling,”ujarnya.

bahkan dikatakan Herman,  sekarang bisa dilihat sendiri itu, selain itu dirinya perna membuktikan sewaktu dirinya masuk ke taman tersebut dan mendapati beberapa kaleng lem aibon, aibon itu ngambang di air mancuran, dan memang itu kejadiannya  sudah dua tahun.

Baca juga: Lapangan Merdeka Saksi Lubuklinggau Kota Perjuangan Kini Tinggal Kenangan

Baca juga: Saat Merdeka Indonesia Tak Punya Tentara, dan Ini Awal Berdirinya Museum Subkoss di Linggau

Jadi intinya pemaknaan dari lapangan tersebut tidak bisa berbuat apa-apa sebelum ada walikota yang baru.

“Dan mohon maaf pendapat, pandangan dan setiap pendapat dianggap kritikan jahat jangan, kita tidak akan maju-maju kalau kita tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, memang pembangunan saat ini bisa diacungkang jempol dan mendapat nilai plus, tetapi jangan nilai plus itu melukai sejarah,”tutupnya.

Sementara seorang aktivis mudah yang baru saja terpilih sebagai Ketua GMNI Cabang Lubuklinggau, dia adalah Eris Ying Hengki. Dirinya menceritaka kalau lapangan merdeka tentunya ada kerinduan, Akan semaraknya kegembiraan warga kota lubuklinggau yang mnghiasi lapangan ketika mnyambut hari kemerdekan.

“Dimana kita ketahui bahwa lapangan merdeka dahulunya ialah ikon kota lubuklinggau meskipun sekarang hanya tingal bingkisan dibalik puing-puing sejarah,”ujarnya.

Eris menyebutkan, para wisatawan luas Lubuklinggau kalau ke Lubuklinggau belum ke Lapangan Merdeka (Lapmer) belum sampai ke Lubuklinggau. Itulah yang diungkapkan orang-orang.

Dirinya pada tahun 2008 perna mengikuti acara resmi upacara HUT Republik Indonesia di lapangan merdeka.

Karena menurutnya, disana di Lapmer banyak interaksi kegiatan baik dari kalangan pemuda anak-anak maupun orang-orang dewasa.

Tentu kata Eris, dengan hilangnya lapangan merdeka, menjadi ke khawatiran para pemuda, sebagai genarasi muda. Mungkin untuk anak-anak SD saat ini sudah banyak yang tidak tahu tentang sjearah lapangan merdeka.

Menurutnya, untuk saat ini kembali lagi menjadi lapangan merdeka itu sulit bahkan mungkin memustahilan, jadinia berharap sejarah-sejarah di kota Lubuklinggau terkhususnya sejarah lapangan merdeka terus di ajarkan dan giat di sosialisasikn kepada generasi-generasi penerus bangsa dan masyarakat ramai agar tidak tergerus oleh zaman.

“Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah Jas merah jangan sekali-kali melupakan sejarah,”tutupnya.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2020

1 Comment

1 Comment

  1. Aan Anom

    18 Agustus 2020 at 03:49

    Yg galak ngritik tu, sdh berbuat apo untuk masyarakat Linggau? Kau dak tau Apo do bnyk WTS di lapangan merdeka sblm jd masjid. Apo belakang gedung damping lapangan tu. Kl cuma ngomong memang lemak, ku pacak pule macam nga tu

Apa Komentarmu

More in Lubuklinggau

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top