Connect with us

HUT RI ke-75 Tugu Kolonel Atmo Diubah Nama Menjadi Taman Bambu Runcing, Ada Apa Dengan Sejarah?

Foto nampak Tugu Kolonel.Atmo yang berada di Jalan Garuda di Dekat Rumah Sakit Sobirin Lubuklinggau, kini namanya menjadi taman bambu runcing

Lubuklinggau

HUT RI ke-75 Tugu Kolonel Atmo Diubah Nama Menjadi Taman Bambu Runcing, Ada Apa Dengan Sejarah?

LUBUKLINGGAU,LK-Kota Lubuklinggau menyimpan sejumlah sejarah penting yang berkaitan dengan perjuangan merebut kemerdekaan.

Dalam merebut kemerdekaan ada banyak para pejuang yang gugur selama masa pertempuran. Dan guna mengingat peristiwa ujicoba ledakan senjata persiapan perang kemerdekaan I di Lubuklinggau pada tahun 1948 yang mengakibatkan  gugurnya Kolonel Atmo Atmo Wirjono.

Sebab itu guna mengenang, namanya diabadikan dalam bentuk Tugu Peringatan Pahlawan Nasional tepatnya di samping di Jalan Jalan Garuda Kelurahan Dempo, Kecamatan Lubuklinggau Timur II, Kota Lubuklinggau dekat rel kereta api dan Rumah Sakit Sobirin di Lubuklinggau.

Namu disaat hari Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia (RI) yang ke-75 tugu Kolonel atmo dirubah namanya menjadi taman bambu Runcing.

Dengan diubahnya nama tugu kolonel Atmo, membuat seorang sejarawan di Kota Lubuklinggau menyatakan ketidak setujuannya. Ia menilai hal tersebut merupakan penghapusan sejarah.

“Jangan hanya melihat dipagar tugu seperti bambu runcing lalu namanya dirubah, mereka tidak bepikir diatas tugu ada tiga orang yang sedang memegang mortir, dan itulah Kolonel Atmo”kata H. Swandi Sam kepada Linggauklik.com saat ditemui dirumahnya, Jumat (16/8/2020).

Tugu itu dibuat untuk memperingati peristiwa senjata buatan Kolonel Atmo, yang naasnya meledak dan membuat Kolonel Atmo meninggal.

Jadi karena untuk meperingati kolonel Atmo monumennya dibangun disana. Sebenarnya Sewaktu senjata mortir Kolonel Atmo meledak, itu dulu lokasinya di Daerah Jalan Wiarakarya Talang Jawa atau Kecamatan Lubuklinggau Timur II.

Dulu jelas Swandi ditalang Jawa Merupakan Gudang senjata, dan saat itu disana merupakan hutan dan belum ada penghuni, sehingga di daearah seberang Kelurahan Talang Jawa menjadi lokasi latihan tembak para tentara.

Sebab itu, tidak mungkin monumen Kolonel Atmo dibuat disana.

“Mungkin karena pagarnya bulat lalu seperti bambu runcing mungkin itu membuat taman bambu runcing, padahal tahun 2005 sudah diadakan renungan Suci mengingat kolonel Atmo yang gugur karena letupan senjata buatan sendiri,”jelasnya.

“Saya tidak tahu kenapa namanya dirubah bambu runcing, baru itu, dan membuat saya berutuk (marah) terus,”jelasnya.

Menurutnya dengan diubah tugu Kolonel Atmo menjadi Taman Bambu Runcing merupakan penghapusan Sejarah. Itu namanya Tugu Kolonel Atmo, bahkan orang-orang dari luar wilayah datang pada tahun 2005 guna melakukan renungan suci memperingati Kolonel Atmo.

Dengan dirubahnya nama Tugu Kolonel Atmo membuat sejarawan Lubuklinggau ini merasa sakit hati, tetapi dia bingung ingin marah dengan siapa.

“Apa pangkat Swandi, cuma bisa menceritakan sejarah saja, saya bukan pejabat, apo aku ni setda, apo aku ni Polisi,”ujarnya.

Semestinya monumen tersebut jangan dirubah namanya, boleh diperbaharui tetapi jangan merubah sejarahnya. Apa salahnya dibuat nama kolenel Atmo. Bahkan di Palembang saja nama Kolonel Atmo di buat untuk menamai jalan.

Dijelaskan Swandi, pada saat peristiwa senjata tersebut meledak, pangkatnya masih Letkol, namun karena dia meninggal dengan penghargaan anumerta, jadi dia diangkat menjadi pahlawan dan pangkatnya naik menjadi kolonel.

Sebab itu Swandi menyarankan kepada anak mudah, janganlah mengubah sejarah-sejarah. Jangan sampai apabila dirinya sudah tidak ada, sejarah yang dihilangkan, lalu para anak muda hanya menurut saja.

“Ini adalah penyimpangan sejarah, nanti anda mendapat dosanya,”pesan Swandi dengan nada kesal.

Ia menjelaskan jika pada pukul 00.00 WIB tanggal 2 Mei 2005 Di Pelataran Tugu peringatan Letkol. Atmo Wirjono Komplek Terminal Muara Lama Kota Lubuklinggau dilakukan renungan suci guna memperingati sejarah kolonel Atmo.

Diceritakan ia, pada Perang Kemerdekaan II pecah mulai bulan Desember 1948 merupakan ujian berat bagi pemimpin perjuangan Indonesia, terutama menanggulangi kebutuhan senjata yang memadai dalam mempersiapkan kekuatan persenjataan TNI dan badan badan perjuangan kita untuk berperang menghadapi pasukan Belanda.

Selain telah dilakukan penambahan pemimpin pasukan yang diperlukan di pos-pos perjuangan terutama di Sumatera, tidak kalah pentingnya yaitu mendirikan pubrik-pabrik senjata, seperti di gunung Meraksa (Lampung), dusun Tabalagan (Bengkulu), dusun Jeranglah (Manna), Talang Jawa Ujung (Lubuklinggau), dan Sawahlunto.

Tugu ini dibangun bulan Nopember 1972 pada Jaman Bupati Muhtar Aman,  dengan maksud untuk mengabadikan peristiwa menjelang Perang Kemerdekaan II tahun 1948 tentang Produksi senjata dari pabrik dalam negeri itu mempunyai konsekuensi cukup berat, karena harus dilakukan ujicoba terlebih dahulu untuk dapat diyakini sebagai senjata. Layak pakai.

Senjata yang diproduksi berupa meriam kecepek, mortir, granat tangan,bulu ayam, bom gantung, dan landmijn semacam bom waktu yang dirancang khusus untuk penghancur tebing, merobohkan pohon dan jembatan.

Senjata tradisional tersebut dirancang dan dikerjakan oleh para pemuda Ajuang rata-rata berusia 20-25 tahun. Dengan gigih memeras otak dan tenaga, andalkan peralatan sederhana, seperti halnya teknologi pandai besi, bahan bahan apa adanya, antara lain untuk membuat meriam kecepek atau mortir manfaatkan tiang telepon.

Kaki dan pelarutnya ditempa sendiri dari besi, angga pelatuk dibuat dari sepotong kayu. Kep dibuat dari kertas timah untuk bungkus mesiu. Mesiu dibuat dan diolah dari kotoran (tahi) kambing dicampur dengan belerang dan beberapa bahan lain seperti pecahan besi, timah serta sabut kelapa yang dikeringkan.

Pengadaan senjata buatan sendiri merupakan rangkaian perjuangan. Tokoh tokoh pemimpin perjuangan mengusahakan suplay senjata dari luar negeri, seperti yang dilakukan oleh Dr AK Gani beserta para pelaut pejuang dengan gigih dan berani Namun gagal karena blokade angkatan Laut Belanda tak henti-hentinya mengawini di seluruh perairan laut Indonesia.

Sedangkan perolehan dari pelucutan senjata Jepang jumlahnya tidak memadai. Maka suply senjata buatan pabrik dalam Negeri merupakan alternatif yang harus dilaksanakan.

Indonesia mempunyai orang orang profesional di bidang persenjataan, seperti
Mayor Darko memimpin pabrik senjata di Bengkulu dan Lubuk Linggau, dan Kapten Marjono memimpin pabrik senjata di Banten dan daerah Lampung.

Letkol Atmo Wirjono seorang prajurit Mangkunegaran Solo, setelah berhasil menyelesaikan, pendidikan tinggi militer di Breda negeri Belanda, la rela meninggalkan keluarganya, istri dan anaknya di Solo, demi melaksanakan tugas memimpin pasukan di front Sukarame daerah Lahat.

Kemudian menjadi anggota Staf Subkoss setelah bermarkas di Lubuklinggau sebagai staf ahli bidang persenjataan yang bertanggungjawab atas bidang persenjataan Sub Teritorial Palembang, Lampung, Jambi dan Bengkulu

Komandan STP Letkol. Bambang Utoyo mengalami cidera schingga tangannya harus diamputasi karena ingin meyakinkan para prajurit, bahwa geranat suplay pabrik senjata dari Lubuklinggau dapat digunakan untuk membinasakan pasukan Belanda, namun naas karena uji coba granat yang ketiga, telah meledak dalam genggamannya sebelum sempat dilemparkan

Letkol. Atmowinono, mengalami nasib lebih fatal, Jika Letkol Bambang Utowo jiwanya dapat tertolong Namun Pak Atmo gugur dalam ujicoba ledakan senjata Mortir suplay dan pabrik senjata Sawahlunto wilayah Sub Komando Sumatera Tengah.

Ujicoba mortir dilakukan di Talang Jawa Di Lubuklinggau Timur II, Ujung di lokasi dekat pabrik senjata. Mesiu Mortir meledak di pangkal sangat kuat, namun peluru yang seharusnya tertendang keluar menuju sasarannya, ternyata memecahkan laras mortir.

Peluru dan besi-besi pecahan mortir berhamburan mengenai Kolonel Atmo mengakibatkan tubuhnya terkoyak koyak Meskipun beberapa saat beliau sempat mengucapkan beberapa pesan, lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Sedangkan seorang prajurit di dekatnya yang tubuhnya jaga hancur, masih sempat dilarikan ke rumah sakit, namun meninggal dalam perjalanan

Untuk mengenang jasa Kolonel Atmo, akhirnya dibangun monumen perjuangan itu pada tahun 1972 pada masa Bupati Muhtar Aman sekaligus dibangun taman makam pahlawan.

Alasannya monumen itu dibangun di Jalan Garuda karena pada tanggal 30 Desember 1945 secara bersamaam ada 63 orang pahlawan tak dikenal gugur dalam pertempuran dan dimakamkan di wilayah Tugu itu.

“Kemudian baru dipindahkan ke taman makam Pahlawan, bersamaan dengan pahlawan lainnya,” ujarnya.

Sementara saat Linggauklik.com mencoba mencari informasi alasan perubahan nama tersebut, baik Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU), Kepala Dinas Pariwisata, dan juga Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Lubuklinggau, saat dihubungi belum ada jawaban.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2020

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Lubuklinggau

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top