Connect with us

Gedung STAI Bumi Silampari Hanya Numpang di Lahan Baitul A’la

Ketua masjid Baitul A'la Lukman Ahmad

Lubuklinggau

Gedung STAI Bumi Silampari Hanya Numpang di Lahan Baitul A’la

LUBUKLINGGAU,LK-Ketua Kepengurusan Masjid Baitul Ala Lukman Ahmad meluruskan  permasalahan yang terjadi pada aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Bumi Silampari (STAI) Lubuklinggau tentang persoalan lahan Baitul A’la seluas 16.280 M2.

“Saat itu permerintah daerah menyediakan lahan seluas dua hektar , oleh Pemerintah Daerah saat itu, oleh bapak Almarhum Drs.Said waktu itu,  ditunjuk la tanah itu dan ternyata tanah itu tidak sampai dua hektar, jadi keluar dalam ukuran SK bupati itu 16.280 M2 dan dibangunlah masjid Baitul A’la,”Kata Ketua Masjid Baitul A’la Lukman Ahmad saat diwawancarai Linggauklik.com, Senin (6/12/2019)

Dan lanjut ia pada tahun 1987 diresmikan oleh Pak Abdulah Gopur ketika itu beliau sebagai Menteri Pemuda dan Olaraga, dia mewakili ketua Yayasan pada jaman itu Bapak Presiden Suharto. Lalu setelah proses berikutnya diresmikanlah masjid Baitul A’la, dan pada tahun 1987 juga didirikan Yayasan Baitul A’la, nah ketika itu yayasan  diketuai bapak Bupati, sebabnya siapa Bupati saat itu ia la ketua yayasan.

Tapi kemudian Kata Lukman  setelah pak harto tidak lagi menjadi Presiden, terjadi masalah, dari Presiden, Gubernur, Bupati  tidak boleh lagi menjadi ketua yayasan dan saat itu ketua yayasan dipegang oleh bapak Sueb, dan bapak Sueb itu mantan Bupati

Setelah dikomplek masjid Baitul A’la itu didirikanlah SMP dan SMA Baitul A’la, tetapi kedua sekolah itu sudah mati dan tidak berlanjut, lalu proses berikutnya disamping masjid itu  yang saat ini di Pakai STAIS, itu didirkan SD Inpres, tapi oleh bapak Sueb ketika itu tidak dimanfaatkan untuk SD, karena memang lokal SD sudah banyak. Dan dipakailah oleh PGA tiga tahun, PGA itu dari PGA Negeri Lahat, setelah itu PGA itu dibubarkan oleh Pemerintah.

Namun ketika itu terang ia, Oleh pak Sueb harus ada gantinya, lalu dijadikanlah Madrasah Aliyah Negeri 1 (MAN1) dibuatlah Filial jadi MAN2, setelah dapat Negeri dan disetujui dari Pemerintah Pusat, berdirilah MAN2, setelah bediri itu mereka mencari tanah sendiri dan ketemulah di Batu Urip.

Karena sudah memiliki lahan lalu Sekolah itu pindah dan gedung yang digunakan STAI menjadi kosong. Pada tahun 1994 berdirilah STAI, melihat lokasi itu kosong lalu Panitia mengusulkan kepada Yayasan  Baitul A’la kiranya komplek itu dapat dimanfaatkan oleh STAI dan dipakailah oleh STAI.

“Saat itu yang mendirikan Panitian STAI, dan pendiri waktu itu Ketuanya Bapak Drs. Burhan Kadir dan saya sendiri selaku wakil Seketaris, dan diizinkan oleh bapak Sueb memakai komplek itu,”ungkapnya

Waktu ke waktu kata Lukman, teruslah berjalan sampai tahun 1994 dan tahun 1995 keluarlah status terdaftar STAI itu dengan dua Program Studi (Prodi), yakni Prodi Pendidikan Agama Islam, dan Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam.

Dan untuk ketua STAI pertama kalinya itu bapak Rohidi Yunus dan ketua kedua Bapak Drs.Sultan Sahril, dan sampai ketua ketiga ia sendiri dan pak Asri dan H.Isa Sigit, dan sekarang ini bapak Ngimanudin.

“Saat itu ketua satu sampai dengan empat ditunjuk langsung oleh yayasan,”terangnya.

Foto: Bukti surat peminjaman Yayasan Baitul A’la kepada STAI Lubuklinggau

Lukman mengungkapkan jika STAI itu bukan yayasan dibawah Baitu A’la, dia satu kesatuan dengan  Universitas Musirawas (UNMURA) yang mana Yayasanya Pembina pendidikan Tinggi Bumi Silampari, tetapi fasilitas perkuliahanya itu menumpang dengan yayasan Baitu A’la, jadi sampailah dengan sekarang STAI BM itu berjalan.

“Nah konteksnya dengan tanah ini tadi ketua pertama Masjid Baitul A’la Bapak Drs. Muksin  Asrop kemudian ketua berikutnya Ibnu, dan ketua tiga Drs. Zaiman Efendi, keempat bapak Barmawi,”kata ia.

Kemudian pada tahun  2018 kemarin kawan-kawan menujuk ia sebagai ketua masjid, awalnya ia menolak namun karena  amanah dan ia pegang amanah itu. Dan pada bulan juni 2019 pak Bukrori selaku kepala BPN mencari pengurus masjid, akhirnya bertemu dengan dirinya.

Dan saat itu sambung Lukman, Bukhori mengatakan kalau data di BPN  seluruh masjid didalam kota Lubuklinggau Ini, masjid Baitul A’la lah yang belum mempunyai sertifikat,namun ia mengaku belum mengetahui sebab ia kepengurusan yang kelima, selain itu masjid ini sebenarnya bantuan dari  yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila.

Diajaklah membuat Sertifikat oleh Kepala BPN, dan dirapatkan dengan pengurus untuk menyusun proses pembuat sertifikat, bahkan ia ditunjuk sebagai ketua, setelah kepengurusan terbentuk mereka serahkan foto copy KTP  ke BPN, kira-kira dua bulan pada bulan Juli Sertifikat itu kaluar.

“Terbit sertifikast  lalu diserah terimakan secara resmi di masjid Baitu a’la, dan termasuk lahan yang dipakai STAI,”ujarnya.

Dan ditambahnya mengenai bangunan SD yang baru dibangun tepat didepan masjid, beliau mengatakan awalnya lahan tersebut memang akan digusur, tetapi lahan itu sekarang sudah diwakafkan ke pihak Baitul A’la, dan mengenai pagar yang didirikan memang benar batas lahan antara lahan warga dengan Baitul A’la.

Tetapi pada hari Senin (6/1/2020) sekitar pukul 10.00 WIB, Ketua Yayasan Ngimanudin mengajak seluruh Mahasiswa STAI untuk melakukan aksi damai mengenai permasalahan lahan tersebut.

Bahkan mereka menuntut, mendesak BPN untuk membatalkan sertifikat dan mendesak DPRD Kota Lubuklinggau untuk menyikapi dan persolan komplek baitul A’la, serta pemerintah kota untuk mengambil tindakan tegas.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2019

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Lubuklinggau

Trending

Terkini

RSS ANDROID NEWBIE ID

LinggauKlik

To Top