Connect with us

Dampak Negatif Tayangan TV Bagi Anak, KPID: Orang Tua Mesti Waspada

Foto Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID), Efriadi saat memberika materi kepada pengurus Serikat Media Siber Indonesia

Lubuklinggau

Dampak Negatif Tayangan TV Bagi Anak, KPID: Orang Tua Mesti Waspada

LUBUKLINGGAU,LK-Wakil Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Selatan (Sumsel), Efriadi mengatakan, tontonan Televisi Indonesia yang tidak bermanfaat dapat berpengaruh buruk terhadap anak-anak.

Tayangan itu antaranya sinetron,  lawakan yang pukul-pukulan menggunakan styrofoam dab Film tentang percintaan. Karena tanyangan itu dapat menjadi konsumtif anak-anak dan bisa dicontoh ke kehidupan nyata.

“Seperti Sinetron judulnya mengenai keagaaman, tapi isi filmnya banyak yang menggunakan menggunakan pakaian yang seksi, kan itu mengajarkan yang tidak baik,”kata Efriadi saat Literasi bersama media Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) di Hotel Cozy Kota Lubuklinggau, Kamis (10/6/2021).

Dijelaskan dia, seperti televisi swasta mereka membuat acara talkshow acara perdebatan Politik, dalam acara tersebut di desain perdebatan-perdebatan yang sengit, sehingga menjadi daya tarik untuk ditonton, dan membuat Televisi lebih tinggi ratingnya.

Maka terang Efri, semakin tinggi rating media, maka semakin banyak pula iklan yang masuk dengan memberikan tontonan seperti itu.

Sehingga masyarakat harus cerdas cari makna yang esensial di isi media. Jadilah audiens yang aktif bukan pasif , dan baca subatansi isi media dengan makna negosiasi atau oposisi bukan dominan, misal sinetron lebih bnyak ajarkan kapitalisme, seksisme,  hedonisme komsutive.

“Seperti anak abis menonton sinetron, tiba-tiba dia meminta motor gede kepada ayahnya, memaksa ayahnya membeli motor dan mengacam bila tidak dibelikan anak tersebut akan berhenti kuliah,”jelas dia.

Padahal menurut Efri, orang tuanya bukan orang yang mampu, orang tuanya saja mencari uang banting tulang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari susah. Sedangkan harga motor gede itu mahal sekali.

Jadi disini jelas Efri, sinetron menjadi yang semula hanya hiburan, ternyata dapat menjadi konsumtif yang berbahaya bagi anak-anak. Nonton itu ibarat makan, ada yang disukai dan ada yang tidak disukai.

Seperti juga, lawakan saat ini, kalau tidak memukul teman tidak lucu, walaupun memukul menggunakan styrofoam, mereka pukul-pukulan biar lucu, nah efeknya berbahaya, anak-anak tidak tahu kalau styrofoam itu lembut, namun konsumsi anak-anak berpikir itu beda.

“Takutnya dari hasil nonton lawakan yang pukul-pukulan menggunakan sterofoam, anak mempraktikan kepada temannya, dengan mengambil benar-bener kayu dan dipukul, kan bahaya,”jelas dia.

Selain itu film percintaan-percintaan, anak-anak masih SD, SMP, sudah bisa pacaran terus panggilnya dengan sebutan mama, papa, dan sayang-sayangan.

Oleh sebab itu sambung dia, tujuan KPID untuk memberikan edukasi kepada Masyarakat, agar penyiaran televisi tidak menampilkan konten yang memiliki unsur kekerasan dan tidak bermanfaat bagi masyarakat.

Dengan literasi media, KPID mengajak menganalisa isi pesan, mempertimbangkan tujuan yang dimaksud dan meneliti siapa yang bertanggung jawab

Jadi bagaiman media mebuat, agar masyarakat bisa terhibur dan mendapatkan edukasi.

Media itu membentuk realitas dan kenyataan yang ada. Media itu khususnya televisi adalah industri yang luar biasa, Prinsip literasi media, agar semua media terkontruksi

Oleh sebab itu Efri menghimbau, batasi konsumsi televisi maksimal 2 jam sehari, dan ajak anak-anak setelah menonton televisi untuk mendiskusikan isi tontonan yang mengandung kekerasan, Hendonisme san nilai-nilai lain yang dirasa tidak relevan dengan nilai keluarga.

“Selain itu orang tua diminta waspada, dampingi anak saat dalam menonton acara yang ada di televisi,”tandasnya.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2021

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Lubuklinggau

Trending

Terkini

RSS ANDROID NEWBIE ID

LinggauKlik

To Top