Connect with us

Akan Didugat Keluarga Pasien, Penasehat Hukum Ar-Bunda Tantang Bertemu di Pengadilan

Foto pihak rumah Sakit Ar-Bunda Kota Lubuklinggau saat melakukan rilies kepada awak media Kamis (9/9/2020) sore

Lubuklinggau

Akan Didugat Keluarga Pasien, Penasehat Hukum Ar-Bunda Tantang Bertemu di Pengadilan

LUBUKLINGGAU,LK-Rumah Sakit Ar-Bunda di Kota Lubuklinggau, diduga memaksa kepada keluarga pasien asal Padang Titiran, Kabupaten Empat Lawang, bahwa keluarganya yang meninggal positif Covid-19. Padahal keluarga sama sekali tidak mengetahui adanya tes swab dilakukan.

Pasien tersebut diketahui adalah Danil (50) yang meninggal dunia, Senin (31/9/2020).

Kelurga Almarhum yakni Dahli, menyatakan akan menuntut pihak Ar Bunda keranah hukum terkait penetapan status positif corona yang menurut keluarga sangat janggal.

Dikatakan Dahli, pihak keluarga pada saat almarhum dinyatakan positif Corona telah meminta kepada RS AR Bunda Lubuklinggau memberikan  bukti bahwa almarhum melakukan swab tes, salah satunya membuka rekaman CCTV.

“Mereka tidak bisa memberikan yang kami minta, mereka tidak mau buka CCTV nya, jadi kami sangat yakin ayah kami ini tidak diswab, dan bukan corona,” tegasnya.

Bahkan, kata Dahli, dengan adanya kejadian ini, Dahli menuding kejadian yang dialami keluarganya bukan kali pertama terjadi.

Sementara Penasehat Hukum Ar-Bunda Kota Lubuklinggau Andika, mendengar informasi bahwa pihak keluarga akan menuntut rumah sakit Ar-Bunda, maka dirinya dengan tegas menyatakan siap bertemu di Pengadilan.

“Tugas kita bukan membuktikan loh, misalkan seperti ini contoh oh saya tidak senang keluarga saya dioperasi meninggal, tolong dibuktikan operasi itu tentu tidak mungkinlah,”kata Andika kepada Wartawan, Rabu (9/9/2020).

“Tidak mungkin dokter harus meragakan aku jahitnya seperti ini, itu tidak mungkin,”terangnya.

Menurut Andika, karena itu sudah sumpah profesi, dan tugasnya demi menyelamatkan nyawa manusia dan kehidupan manusia itu menurut dirinya selaku Penasehat Hukum rumah Sakit.

Dan mengenai keluarga ingin melaporkan dan menuntut pihak rumah sakit, ia mengaku itu hal yang wajar.

“Kalau mau proses hukum silakan, kalau mau proses gak masalah ke proses hukum, aturan itu silakan mau dibawa kemana
Dan kita siap untuk mengahadapinya,”ujarnya.

“Tetapi ingat konsekuensinya kami juga tidak akan bertindak diam apabila terjadi kerugian atau pencemaran nama baik,”tegasnya

Seperti diketahui Menurut keponakan almarhum Danil, Yolan Apridita (23), pamannya tersebut belum pernah di swab tes. Makanya pihak keluarga merasa dirugikan, apalagi informasi mengenai positif itu sampai diberitakan di media.

Bahkan, untuk memastikan apakah almarhum dites swab atau tidak, pihak keluarga meminta pihak RS menunjukkan rekaman CCTV saat swab, namun tidak bisa.

“Alasannya, CCTV yang ada hanya untuk monitoring aktivitas di RS saja. Tidak difungsikan merekam seperti halnya fungsi CCTV,” keluh Yolan.

Adapun kronologisnya, bermula Minggu (30/8/2020) sekitar pukul 07.00 WIB  almarhum Danil mengeluhkan sesak napas dan sakit pada dada bagian kiri. Sehingga langsung dilarikan ke RSUD Empat Lawang dan masuk ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) sekitar pukul 08.00 WIB.

Kemudian karena mengikuti standar protokol kesehatan (prokes) Covid-19, pihak RSUD Empat Lawang melakukan rapid tes kepada pamannya sekitar pukul 08.30 WIB. Hasilnya non reaktif. Usai itu, almarhum langsung ditangani di ruang IGD untuk dilakukan tes jantung, sembari diberi alat bantu pernapasan.

Namun, lanjut Yolan, saat pihaknya menanyakan apa yang terjadi dengan almarhum Danil, pihak RSUD Empat Lawang belum bisa memberikan jawaban pasti. Mengingat ketika itu, sambung Yolan, pihak RSUD Empat Lawang masih menunggu hasil tes kesehatan.

Hanya saja karena kondisinya sudah enak, almarhum akhirnya dibawa pulang. Namun baru satu jam di rumah, kembali sesak napas. Sehingga pukul 15.30 WIB dibawa ke klinik di Kecamatan Pendopo Kabupaten Empat Lawang.

Karena keterbatasan peralatan, akhirnya almarhum Danil dirujuk ke salah satu Rumah Sakit Ar-Bunda di Lubuklinggau. Pukul 22.00 WIB tiba di Lubuklinggau langsung masuk UGD.

“Saat itu, dokter mengatakan ada dugaan terpapar Covid-19. Sehingga harus masuk ICU, tapi karena ICU penuh maka disarankan masuk ruang isolasi. Dengan perjanjian boleh ditemani istri, kami setuju diisolasi,” katanya.

Kemudian almarhum Danil meninggal dunia, Senin (31/8/2020) pukul 01.00 WIB
dan selama itu dikatakan Yolan, pihak keluarga tidak pernah mengetahui dilakukannya tes swab.

Tiba-tiba setelah almarhum meninggal dunia, perawat mengatakan harus dilakukan protokol Covid. Kendati keluarga sempat berkeras, akhirnya pukul 09.00 WIB jenazah almarhum dibawa pulang dengan protokol Covid, yakni di dalam peti.

“Padahal, saya sempat menanyakan kepada dokter pada malam itu, apakah akan di swab. Menurut dokter, akan dilakukan besoknya, karena malam hari tidak bisa dilakukan. Namun sebelum dilakukan swab, paman saya sudah meninggal dunia,” tegasnya.

Sementara Direktur Rumah Sakit Ar-Bunda Kota Lubuklinggau dr Sarah dalam riliesnya mengatakan jika sesuai dengan aturan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jenazah suspect atau probable Covid-19 akan dimakamkan dengan proses pemakaman yang berlapis, seperti dikain kapan, diberikan plastik, kantung jenazah dan yang terakhir dimasukan kedalam peti.

Jika pasien meninggal dunia, maka pemulasaran jenazah pasien akan dilakukan oleh petugas rumah sakit susuai dengan SOP pengurusan jenazah Covid-19.

Keluarga pasien lanjutnya, tidak boleh membuka kembali peti Jenazah pasien Covid-19, pasien PDP atau ODP atau yang sekarang namanya probable meninggal dunia, sedangkan hasil laboratorium belum keluar, maka jenazah akan dilakukan sama dengan pasien yang meninggal terkonfirmasi Covid-19.

“Untuk itu semua pasien probable ataupun konfirmasi Positif Covid-19 meninggal dunia maka akan diberlakukan sesuai dengan protokol covid-19,”kata dr Sarah kepada wartawan saat pres rilies dirumah Sakit Ar-Bunda Kota Lubuklinggau, Rabu (9/9/2020).

Selain itu kata ia, rumah sakit juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan Gugus Tugas untuk setiap pasien Suspect ataupun terkonfirmasi covid-19 yang meninggal.

Hasil laboratorium akan pihak rumah sakit berikan kepada keluarga pasien dan juga gugus tugas dan tidak ada diberikan kepada pihak lainnya.

Jadi Sarah bilang, jika ada berita keluar pihak Rumah Sakit  mengeluarkan hasil pemeriksaan, dan itu tidak pihaknya lakukan dan Rumah Sakit hanya memberikan hasil pemeriksaan kepada pihak yang berwenang yakni gugus tugas, dinas kesehatan dan juga keluarga pasien.

“Namun apabila ada pasien yang meninggal dan akan dimakamkan secara protokol kesehatan, maka kami akan laporkan ke Dinas Kesehatan dan akan dikoordinasikan kepada pihak-pihak yang berwajib,”ujarnya.

Dan apabila akan dilakukan penguburan, rumah sakit juga akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dimana warga itu berdomisili. Dan rumah sakit  hanya melakukan pemusalaran jenazah dan rumah sakit tidak melakukan penguburan.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2019

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Lubuklinggau

Trending

Terkini

Follow me on Twitter

LinggauKlik

To Top