Connect with us

2019, Inclinator Dibuka Untuk Umum? (2)

Lipsus

2019, Inclinator Dibuka Untuk Umum? (2)

Sejak kereta miring ini ‘selesai’ dibangun, masyarakat bisa membaca berita di media bahwa sejumlah pejabat sudah diajak ‘naik-naik’ ke puncak bukit sulap menggunakan fasilitas mewah ini. Kabar beredar, 2019 mendatang fasilitas pembeda dengan bukit lainnya di Indonesia itu akan dibuka untuk umum?

Sekitar pertengahan 2016 hingga 2017 sejumlah tamu luar daerah dan masyarakat lubuklinggau ‘uji coba’ menaiki inclinator ini.

Ada cerita menarik dari wisatawan setelah jalan-jalan ke kawasan wisata Bukit Sulap. Seperti yang diceritakan Hotman Silitonga, petugas polindes muara kasih, Kecamatan Karang Jaya, Muratara dalam blognya.

Dalam ceritanya, sekitar September 2017 Ia berwisata ke Bukit Sulap Lubuklinggau. Ia mengisahkan, untuk memasuki kawasan wisata Bukit Sulap tidak dipungut biaya/gratis. Hanya dikenakan biaya parkir saja. Untuk tarif parkir motor dikenakan biaya Rp5 ribu. Sementara untuk naik inclinator dikenakan tarif Rp10 ribu -per orang.

“Namun saya tidak tahu pasti, tarif ini untuk satu shelter saja atau 3 shelter sekaligus. Sementara ini inclinator hanya beroperasi pada hari Sabtu/Minggu serta hari libur lainnya,” tulis Hotman.

Ia menuturkan, ada 3 shelter pada jalur inclinator ini. Setelah naik sampai di shelter 1 untuk naik ke shelter 2 harus pindah Lift/Kereta. Sayangnya ia hanya bisa naik sampai ke shelter 1 saja, dikarenakan shelter ke-2 menurut petugas yang mengoperasikan inclinator, lagi rusak dan sedang diperbaiki.

“Jadi nggak kesampaian menuju puncak bukit. tapi saya cukup puas bisa melihat kota dari ketinggian,” tandas Hotman.

Cerita lainnya, sempat juga terjadi insiden kecil. Dimana saat itu inclinator tengah mengangkut pengunjung, tiba-tiba terhenti lantaran adanya pemadaman aliran listrik. Kejadian tersebut sontak saja membuat para penumpang merasa ketakutan.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Lubuklinggau, H. Luthfi Ishak menerangkan bahwa inclinator yang berada di kawasan objek wisata Bukit Sulap sejatinya belum bisa dibuka untuk umum dikarenakan pertimbangan Safety-nya.

“Itu (inclinator-red) masih tahap pengerjaan dari Dinas PU Kota Lubuklinggau dan belum ada serah terima kepada PT Linggau Bisa sebagai pengelola. Dan kita, Dinas Pariwisata kewenangannya hanya sebagai pengawasan saja. Sepenuhnya nanti akan diserahkan kepada PT. Linggau Bisa,” tambah Luthfi.

Selain faktor safety yang membuat inclinator belum bisa dibuka untuk umum, menurut Burlian Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Lubuklinggau, ada dua faktor lainnya yakni soal biaya operasional dan tali sling yang sudah mengkhawatirkan.

“Kendala pertama adalah soal biaya operasional. Selama dilakukan uji coba, biaya operasionalnya berkisar Rp40 jutaan. Kemudian yang kedua adalah soal tali sling-nya mengkhawatirkan,” terang Burlian.

Sementara Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umun dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Lubuklinggau, Ihwan menegaskan bahwa kondisi inclinator saat ini sangat baik dan tidak ada masalah. Bahkan kedepan objek wisata Bukit Sulap akan dikembangkan lagi, dengan dibangun kafe setiap shelter inclinator.

Menurut Ihwan, saat ini ada tiga selter dan wacananya kafe akan dibangun di selter kedua dan ketiga. DPUTR Kota Lubuklinggau tengah membuat perencanaan terlebih dahulu.

“Masih dibuat perencanaannya, karena masih belum dipastikan kafe akan dibangun di selter berapa,” kata Ihwan.

Diakui Ihwan, saat ini inclinator belum terbuka untuk umum karena masih dalam penyempurnaan.

“Kondisi baik tapi memang belum untuk umum. Nanti kalau fasilitas di setiap salter lengkap pasti dibuka untuk umum dan pengunjung Bukit Sulap akan lebih ramai,” tegas Ihwan.

Lain halnya menurut Edi Syahputra, Direktur Utama (Dirut) PT. Linggau Bisa. Ia memastikan awal tahun 2019, inclinator sudah bisa dibuka untuk umum.

“Awal 2019, kereta miring tersebut akan dibuka untuk umum,” tegas mantan Wakil Walikota Lubuklinggau ini.

Edi menjelaskan, pihaknya selaku pengelola kawasan objek wisata Bukit Sulap terutama inclinator, masih terus melakukan perbaikan serta mempersiapkan kelengkapan keamanan pengunjung.

Untuk besaran tarif retribusi pengunjung yang akan menikmati panorama alam dari atas inclinator sendiri, pihaknya belum bisa menentukannya.

“Kita belum tahu berapa kisaran tarif yang ditarik pada pengunjung yang menggunakan inclinator ini,” kata Edi.

*Soal Izin

Masih banyak masyarakat yang bertanya mengenai izin pengelolaan Bukit Sulap yang notabenenya adalah kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Sebab untuk masuk ke kawasan ini tidak mudah, bahkan harus mengantongi izin. Jika masuk saja harus berizin, maka Bukit Sulap yang sudah dilakukan pembangunan bahkan sebagian atasnya masuk wilayah TNKS juga harus berizin.

Menjawab hal ini, Hendrimon Syadri, selaku Kepala Kantor Pengelolaan TNKS Wilayah V Sumsel angkat bicara. Dijelaskannya, kawasan TNKS ada seluas 1.389.509,87 ha terletak di 4 propinsi, yaitu: Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu, dan Sumatera Selatan. Kawasan TNKS, terdiri dari zona inti, zona rimba, zona pemanfaatan, zona rehabilitasi, zona khusus dan zona tradisional.

Kemudian, luas kawasan Balai Besar TNKS wilayah V Sumsel meliputi Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas dan Musi Rawas Utara, yakni kurang lebih 250.613 hektar dengan panjang batas kawasan kurang lebih 293.520 KM dan berbatasan langsung dengan 12 Kelurahan dan 22 Desa dalam 11 Kecamatan.

“Dari luas 250.613 hektar tersebut, 42,375 hektar diantaranya masuk zona pemanfaatan. Mengenai hal ini, ada yang namanya Izin Usaha Penyedia Sarana Wisata Alam (IUPSWA) Bukit Sulap diberikan kepada PT Linggau Bisa dengan konsesi selama 55 Tahun,” ungkap Hendrimon.

Atas izin ini, PT Linggau Bisa berhak membuat sarana wisata alam seperti inclinator, menara pandang maupun teropong bintang.

“Dari situ mereka bisa mengutip biaya bagi pengunjung dari sarana yang dipakai, sehingga ada PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) ke kas negara,” imbuh Hendrimon.

Rida, selaku Fungsional wilayah V Balai Besar TNKS menambahkan izin yang dikeluarkan untuk PT Linggau Bisa sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.4/Menhut-II/2012 tentang penyediaan sarana wisata alam yang ada di kawasan TNKS.

“Dalam permenhut itu diatur, bahwa mereka tidak boleh merubah bentang alam. Makanya inclinatornya tidak dibuat datar. Selaku pengelola kawasan, kami tetap melakukan pengawasan, jangan sampai terjadi penyimpangan dari yang sudah direncanakan sebelumnya,” jelas dia.

Perjalanan mendapatkan izin ini dimulai sejak Tahun 2013 dimana dalam pengelolaan wisata Bukit Sulap, Pemkot Lubuklinggau baru mengantongi izin prinsip dari Kementerian Kehutanan melalui Dirjen PHKA.

April 2014, dilakukan penandatanganan kerjasama antara Pemkot Lubuklinggau dengan Balai Besar TNKS tentang pariwisata alam pada zona pemanfaatan TNKS Bukit Sulap. Dengan Nomor Perjanjian/MoU: PKS.390/IV/10/2014; dan Nomor 180/HK/09/2014 dengan Periode 5 tahun yakni dari 2014-2019.

“MoU ini, merupakan rangkaian proses perizinan itu,” ujar Prana Putra Sohe, usai penandatanganan kerjasama antara Pemkot Lubuklinggau dengan Balai Besar TNKS yang dihadiri Kepala Balai Besar TNKS M Arif Toengkagie dan Direktur PJLKKHL Kementerian Kehutanan, Bambang Supriyanto, Jumat (11/4/2014).

TANDATANGAN. Penandatanganan kerjasama antara Pemkot Lubuklinggau dengan BB TNKS tentang pariwisata alam pada zona pemanfaatan Bukit Sulap, TNKS, Jumat (11/4/2014). FOTO: SRIPOKU.COM/AHMAD FAROZI
http://palembang.tribunnews.com/

Sesuai dengan undang-undang, sebagian atas dari Bukit Sulap merupakan kawasan TNKS. Namun masih ada peluang diperbolehkannya untuk mengelola kawasan dalam zona pemanfaatan. Namun harus menunggu dikeluarkannya IUPSWA.

Maret 2015, keluarlah Keputusan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 2/1/IUPSWA/PMDN/2015 tentang Pemberian Izin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam kepada PT Linggau Bisa pada zona Pemanfaatan Bukiit Sulap TNKS seluas 42,375 hektar di Kota Lubuklinggau Provinsi Sumsel.

29 Juli 2018, Kepala Balai Besar TNKS Tamen Sitorus mengunjungi Kantor SPTN V Lubuklinggau serta meninjau langsung fasilitas sarana wisata alam yang telah dibangun oleh PT Linggau Bisa sebagai pemegang IUPSWA Bukit Sulap yang berada dalam zona pemanfaatan TNKS.

===
**Soal Pembangunan

Dulu target jangka panjang yang akan dicapai Kota Lubuklinggau terhadap Bukit sulap adalah menjadikan kawasan ini sebagai kawasan Taman Nasional Bukit Sulap (TNBS).

Maka dari itu, selain sebagai tempat wisata dibangun inclinator, di lokasi ini juga akan dibangun tempat penangkaran flora dan fauna langka, disamping melakukan pemeliharaan pohon-pohon besar berusia ratusan tahun dari gangguan masyarakat yang tidak bertanggung jawab.

Jika wacana itu disetujui pemerintah pusat, maka kawasan setempat akan dijadikan TNBS yang merupakan satu-satunya di Kota Lubuklinggau, dan kedepannya bisa dijadikan destinasi wisata tingkat nasional maupun internasional. Namun kini tak terdengar lagi wacana TNBS tersebut

Pembangunan wisata bukit sulap, ada tiga tahapan dilalui yakni pertama pembangunan inclinator itu sendiri mulai dari perencanaan sampai dengan uji coba dengan pondasi dan rel yang telah terpasang. Kedua, melengkapi sarana prasarana. Dan ketiga memperindah dengan membuat taman dan apapun yang membuat tempat wisata menjadi indah.

Panjang inclinator di Bukit Sulap sekitar 600 meter untuk sampai ke puncak yang dibagi menjadi 4 shelter. Rinciannya dari shelter A-B memiliki panjang 260 meter dengan tingkat kemiringan 22 derajat, dari shelter B-C memiliki jarak 180 meter dengan kemiringan 35 derajat. Jarak C menuju ke shelter D memiliki panjang 160 meter dengan kemiringan sampai 40 derajat.

Pembangunan Inclinator ini dimulai Tahun 2013 dengan anggaran sebesar Rp725 juta, 2014: Rp13 milyar, 2016; Rp2 Milyar, 2017; lebih dari Rp367,4 juta (perbaikan sistim instalasi elektrik inclinator).

*Soal Pengelola
Sejak tahun 2013, inclinator ditangani oleh Dinas PUTR. Juli 2016, status pengunaan inclinator diserahkan ke Dinas Pemuda dan Olahraga, sedangkan status pemeliharaan dan perawatan masih ditangani Dinas PUTR.

Maret 2018, status pengelola diserahkan kepada Dinas Pariwisata dengan kondisi inclinator rusak serta aliran listrik diputuskan oleh pihak PT PLN.

Tahun 2019, dikabarkan status pengelolaan Inclinator ini akan diserahkan sepenuhnya kepada PT Linggau Bisa. (TIM)

*END

 

 


DIOLAH DARI SUMBER BAHAN:
http://kemenpora.go.id –
http://mediaindonesia.com –
https://sp.beritasatu.com –
http://juara.net –
http://bola.com –
http://icf.id –
http://sumsel.tribunnews.com –
http://www.infollg.net –
https://korankito.com –
http://www.zonarantau.com –
http://www.mutiaraindotv.com –
http://www.radar-palembang.com –
http://koran-sindo.com –
http://beritapagi.co.id –
http://kabarsumatera.com –
https://www.tuntasonline.com
https://www.linggaupos.co.id
https://www.hariansilampari.co.id
http://lubuklinggaukota.go.id

NOTE: Artikel ini sudah dicetak MLM Media Edisi Desember 2018

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Lipsus

Trending

Terkini

RSS ANDROID NEWBIE ID

LinggauKlik

To Top