Connect with us

BPOM Sumsel Temukan Dua Rumah Produksi Tahu dan Mie di Linggau Berformalin

Foto: barang bukti tahu yang diamankan BPOM Sumsel dan Lubuklinggau

Kriminal

BPOM Sumsel Temukan Dua Rumah Produksi Tahu dan Mie di Linggau Berformalin

LUBUKLINGGAU,LK-Peredaran tahu putih dan mie basah berformalin di Kota Lubuklinggau ditemukan. Dua industri rumahan di wilayah Lubuklinggau ini positif menggunakan formalin sebagai bahan pengawet.

Kepala Bidang Penindakan Balai Besar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Palembang Tedi didampingi Kepala BPOM Lubuklinggau Afdil Kurnia mengatakan, BPOM akan menyeret dua orang pengusaha industri rumahan tahu tersebut ke meja hijau.

Satu orang Pengusaha Mie Basah asal Lubuklinggau berinisial HN yang akan dilakukan proses hukum, karena masih menggunakan formalin sebagai bahan produksi usahanya.

“Produksinya 100 kilogram perhari dengan penjualan ke pasar bukit sulap Lubuklinggau,”kata Tedi kepada media saat pres rilies, Rabu (6/11/2019).

Dilanjutkannya Barang bukti yang diamankan yakni mie kuning sudah tercampur formalin, mesin pembuat mie, dan cairan formalin dua jerigen.

Dan yang kedua usaha produksi tahu putih berinisial RD, pelaku menegedarkan tahu putih di Kota Lubuklinggau sejak 2014, dan memproduksi tahu 12.000 perhari dan diedarkan di pasar bukti sulap Lubuklinggau.

“Barang bukti 8.000 ribu lebih tahu mengandung formalin dan cairan formalin,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ini dalam rangka kegiatan untuk menjamin obat dan makanan di kota Lubuklinggau ini aman dari bahan berbahaya bagi masyarakat.

Kemaren lanjutnya, tim balai besar POM di Palembang bersama dengan tim POM kota Lubuklinggau dan berkoordinasi dengan polda sumsel dalam rangka proses untuk penindakan dua jenis prodak yang selama ini bermasalah di Kota Lubuklinggau yakni tahu dan mie kunig basah yang diduga mengandung formalin.

Kasus bahan berbahaya formalin yang digunakan di makanan ini, sebelumnya sudah mulai dilakukan pembinaan supaya memproduksi tahu dan mie yang aman dan tidak mengandung bahan berbahaya yang dilarang.

“Dan setelah itu kita lakukan pemeriksaan secara berkala dan juga melakukan pengawasan di pasar bukit sulap,inpres dan simpang periuk,” ujarnya.

BPOM sudah lakukan pembinaan dan pengujian secara berkala dengan mobil lab keliling apabila dari hasil pembinaan tetap menggunakan bahan berbahaya ini, maka proses penidakan tegas.

Dan ternyata tegas Tedi, dari hasil investigasi BPOM ternyata masih ada pelaku usaha yang menggunakan formalin untuk pembuatan tahu dan mie.

“Maka kami akan melakukan pembinaan yang lebih keras dan tegas,”tegas ia.

Akibat perbuatannya kedua pelaku usaha tersebut akan dibawa ke proses hukum, dan keduanya dapat terancam tindak pidana sesuai dengan pasal 136 Undang-Undang nomor 18 tahun 2012, dengan ancaman penjara 5 tahun.(rdw)

Penulis : Sudirman – copyright@linggauklik.com 2019

Click to comment

Apa Komentarmu

More in Kriminal

Trending

Terkini

RSS ANDROID NEWBIE ID

LinggauKlik

To Top