Connect with us

700 Sak Pupuk NPK Mutiara Palsu Gagal Edar, Tiga Tersangka Dibekuk Tak Berkutik

Kriminal

700 Sak Pupuk NPK Mutiara Palsu Gagal Edar, Tiga Tersangka Dibekuk Tak Berkutik

*Tersangka S sebagai Donatur, Tersangka Y dan T Bertugas Sebagai Pengedar

*Harga Pupuk Palsu Rp 60 Ribu, Ongkir Rp 40 Ribu, Total Rp 100 ribu persak

*Diperkirakan 960 Sak Pupuk Palsu, 260 Sak Sudah Beredar, 700 Sak Berhasil Disita

*Tersangka Berhasil Raup Keuntungan Rp 40 Juta hingga Rp 50 juga

*700 Sak Pupuk Palsu, Disimpan di Dua Gudang

*260 Sak Pupuk Palsu Beredar di Kecamatan STL Ulu Terawas, Sistem Edar Langsung Kepada Petani

*Tersangka diancam maksimal 5 tahun dan denda pidana 100 juta

MUSI RAWAS LK-700 Sak Pupuk NPK Mutiara 16-16-16 palsu, disita Tim Pidsus dan Tim Landak Satreskrim Polres Mura, pada, Jumat (3/9/2021), lalu.

700 sak pupuk palsu tersebut disimpan di dua gudang, gudang pertama 400 sak di Desa Pedang, Kecamatan Muara Beliti, Kabupaten Mura dan 300 sak disimpan digudang Kelurahan Lubuk Kupang, Kecamatan Lubuklinggau Selatan I, Kota Lubuklinggau, tepat disebelah kontrakkan ketiga pelaku.

Pupuk palsu disita dari tiga warga asal Jawa Timur, Bojonegoro, berinisial, S, Y dan T. Diketahui, peran S sebagai Donatur Pupuk sedangkan Y dan T berperan sebagai pengedar pupuk palsu.

Hal tersebut terungkap saat, Kapolres Mura, AKBP Efrannedy didampingi Kabag Ops, Kompol Peby Febriana dan Kasat Reskrim, AKP Alex Andriyan menggelar press release digudang penyimpanan pupuk palsu, sekitar pukul 10.00 WIB, Selasa (14/9/2021).

“Iya, hari ini sengaja menggelar press release, perkara peredaran pupuk palsu, digudang pupuk disimpan,” kata AKBP Efrannedy didampingi Kabag Ops, Kompol Peby Febriana dan Kasat Reskrim, AKP Alex Andriyan.

Kapolres menjelaskan, terungkapnya perkara ini bermula pada, Kamis (2/9/2021), anggota mendapat informasi dari warga bahwa adanya dugaan pupuk palsu lantaran telah membeli pupuk tersebut dari ketiga pelaku.

Selanjutnya, setelah dilakukan uji ternyata pupuk tersebut kuat dugaan memang benar palsu. Anggota melakukan penyelidikan dan keberadaan pelaku.

Setelah diketahui bahwa pelaku berada dikontrakannya, kebetulan tempat ketiganya menginap disebelah gudang tempat mereka menyimpan pupuk palsu.

Selanjutnya, ketiganya langsung dibekuk, dan dilakukan pengeledahan digudang hingga ditemukan 300 sak pupuk palsu.

“Selain itu, petugas juga melakukan pengembangan, dari pengakuan pelaku, bahwa para pelaku juga menyimpan pupuk palsu digudang kedua, lalu anggota meluncur ke gudang kedua, dan ditemukan 400 sak pupuk palsu,” jelas kapolres.

Lebih lanjuti, Kapolres menjelaskan, modus tersangka mengedarkan pupuk palsu dengan menjual harga yang cukup relatif murah persak hanya Rp 60 ribu ditambah ongkir dari Jawa Timur ke Sumsel, Rp 40 ribu jadi hanya Rp 100 ribu.

“Namun, mereka menjual pupuk palsu seharga Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu persak, sedangkan harga pupuk asli berkisar Rp 500 ribu persak. Oleh sebab itula, para warga khususnya petani tergiur untuk membeli pupuk palsu dari mereka,” tutur Suami Ny Novi Efran ini.

Kembali, kapolres menuturkan, tentunya tindakan tersangka merugikan para petani, apalagi di Kabupaten Mura ini, rata-rata perekonomian masyarakat dengan cara bertani.

Ketiga tersangka melanggar tiga UU yakni, UU Sistem Budi Daya Pertanian, UU Perdagangan dan UU Perlindungan Konsumen, dengan ancaman maksimal 5 tahun dan denda pidana 100 juta.

“Sejauh ini, perkara ini masih dilakukan pendalaman, adakah pelaku lainnya. Namun diwilayah hukum Polres Mura, ketiga tersangka hanya mengedarkan pupuk palsu bukan tempat produksi, dan ini yang kedua kalinya dan kuat dugaan ratusan pupuk sudah diedarkan, sistem peredaran pupuk para tersangka langsung jual kepada petani,” papar Kapolres.

Sementara itu, Kasat Reskrim, AKP Alex Andriyan menambahkan, menurut keterangan tersangka, pupuk palsu datang sudah dua mobil truk fuso lebih kurang 960 sak jumlah total keseluruhan.

Ada, 260 sak pupuk palsu sudah beredar di Kabupaten Mura khususnya di Kecamatan STL Ulu Terawas.

“Dan, ketiga tersangka dari menjual pupuk palsu sebanyak 260 sak sekitar Rp 40 juta hingga 50 juta meraup keuntungan dari harga persak Rp 300 ribu hingga Rp 350 ribu,” tambahnya.(Roem)

Continue Reading
You may also like...
Click to comment

Apa Komentarmu

More in Kriminal

Trending

Terkini

RSS ANDROID NEWBIE ID

LinggauKlik

To Top